JO, Kenangan Kecilku untuk Maestro Wartawan "Andap Asor"

Kompas.com - 16/09/2020, 15:44 WIB
Komikus Indonesia Hari Prasetyo saat menggambar Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Jumat (22/09/2017). Hari membuat komik tentang blusukan yang dilakukakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, salah satu judulnya yaitu Kisah Blusukan Jokowi di Jawa Timur. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIKomikus Indonesia Hari Prasetyo saat menggambar Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Jumat (22/09/2017). Hari membuat komik tentang blusukan yang dilakukakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, salah satu judulnya yaitu Kisah Blusukan Jokowi di Jawa Timur.
Penulis Joseph Osdar
|

Sabtu malam, 8 Juni 2013, Etty Sri Marianingsih menelefon saya. “Mas Osdar, bisa tolong dipamitkan ke Ibu Megawati, besok Pak Jakob tidak bisa melawat ke pemakaman Pak Taufik Kiemas di Kalibata, karena beliau malam ini sakit perut dan dokter minta untuk istirahat,” kata Etty, sekretaris Pemimpin Umum Kelompok Kompas Gramedia (KKG).

Minggu pagi, 9 Juni 2013 Etty menelepon lagi. “Mas Osdar, Pak Jakob nanti mau menghadiri upacara pemakaman almarhum Taufik Kiemas. Beliau minta Mas Osdar mendampingi,” kata Etty.

Pagi itu saya menelepon Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayjen TNI Doni Monardo.

Saya sampaikan keinginan Jakob Oetama untuk menghadiri upacara pemakaman almarhum Taufik Kiemas yang akan dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Saya akan koordinasikan dengan protokol istana. Kalau Pak Jakob sudah sampai di tempat pemakaman tolong kontak saya Mas Osdar,” kata Doni saat itu.

Satu setengah jam sebelum upacara pemakaman, Jakob sampai di wilayah pemakaman Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Saya bersama Pemimpin Umum Redaksi Kompas Rikard Bagun dan Wartawan Kompas untuk Istana Kepresidenan dan Antonius Tomy Trinugroho (Ato) menjemput Jakob. Agak jauh dari pintu gerbang. Jaraknya cukup jauh untuk Jakob berjalan kaki sampai mulut gerbang pemakaman.

Untung ada seorang prajurit Paspampres mendekati kami dan mempersilakan mobil yang membawa Jakob Oetama merapat sampai pelataran pemakaman.

Karena upacara masih lama, kami bimbing Jakob Oetama menunggu di salah satu gerbang masuk yang dinaungi pepohonan rindang. Saat itu matahari bersinar terang dan mulai panas terik.

Saat itu muncul kolumnis tetap Harian Kompas dan cendekiawan Yudi Latief. Ia ikut membantu mendapatkan kursi kecil untuk duduk Jakob Oetama. Mula-mula Jakob tidak mau duduk.

“Pak Jakob tempat pemakaman cukup jauh dari gerbang ini dan jenazah belum datang, jadi duduk dulu saja,” ujar saya yang ditolak Jakob.

Tapi ketika Yudi Latif memperisilakan, Jakob Oetama bersedia duduk. Beberapa menit kemudian seorang perwira menengah Paspampres mendekati kami dan mempersilahkan Jakob untuk menuju ke wilayah VVIP upacara pemakaman.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X