Wisnu Nugroho
Pemimpin Redaksi Kompas.com

Wartawan Kompas. Pernah bertugas di Surabaya, Yogyakarta dan Istana Kepresidenan Jakarta dengan kegembiraan tetap sama: bersepeda. Menulis sejumlah buku tidak penting.

Tidak semua upaya baik lekas mewujud. Panjang umur upaya-upaya baik ~ @beginu

25 Tahun Kompas.com dan Cita-cita Jakob Oetama

Kompas.com - 14/09/2020, 09:22 WIB
Banner peringatan ulang tahun ke-25 Kompas.com yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Kompas.com didirikan pada 14 September 1995 dan menjadi salah satu perintis media online di Indonesia. Kompas.com/Wisnu NugrohoBanner peringatan ulang tahun ke-25 Kompas.com yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Kompas.com didirikan pada 14 September 1995 dan menjadi salah satu perintis media online di Indonesia.

Ditinggal orang yang kita cintai, hormati, kagumi dan jadikan panutan di hampir separuh hidup memunculkan duka mendalam. Duka karena kehilangan itu membuat banyak hal terasa hambar.

Itu saya alami sejak Rabu (9/9/2020) saat mengetahui kabar meninggalnya Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.

Saya tidak langsung membaca kabar itu saat peristiwa terjadi dan kabar duka diluaskan pukul 13.05. Lantaran tengah menjadi moderator webinar Indonesia Content Marketing Forum (ICMF) yang digelar Grid.id (Grup Majalah Kompas Gramedia), kabar tertunda saya ketahui.

Ketika acara selesai pukul 14.00, saya mendapati puluhan pesan dan telepon masuk yang tidak terjawab di telepon seluler saya.

Dari informasi yang membuat saya tertegun karena duka ini, banyak hal lantas terasa hambar. Bukan saja hal-hal yang baru saja saya kerjakan, tetapi juga rencana-rencana ke depan terasa hambar.

Dalam suasana seperti ini, Kompas.com yang didirikan pada 14 September 1995 memperingati ulang tahun ke-25. Jumlah tahun yang tidak sedikit untuk sebuah media online yang karena sifatnya mudah tumbuh dan cepat berguguran.

Banyak pengalaman jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi dalam mencari bentuk di tengah derasnya arus perubahan yang menuntut banyak adaptasi atau penyesuaian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh Jakob Oetama, perubahan ini sudah lama diprediksi dan terjadi seperti menggenapi apa yang beberapa kali dinyatakannya di berbagai kesempatan soal jati diri media massa.

Karena itu, memperingati ulang tahun ke-25 Kompas.com adalah kesempatan untuk memperingati apa yang diwariskan Jakob Oetama untuk diteruskan.

Tentang jati diri media yang harus melakukan banyak penyesuaian atau adaptif terhadap perubahan zaman, Jakob Oetama pernah menegaskannya dalam tulisannya berjudul "Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia".

Tulisan itu muncul di halaman 1 harian Kompas 28 Juni 2010 tepat pada ulang tahun ke-45 harian Kompas. Berikut ini kutipannya:

"Jati diri lembaga media massa, termasuk surat kabar-sebagai bagian dari ekstensi masyarakat (de Volder)-adalah berubah. Tidak hanya berubah dalam cara, menyampaikan kritik with understanding, teguh dalam perkara lentur dalam cara (fortiter in re suaviter in modo), juga dalam sarana atau alat menyampaikan."

Pelayat membaca Harian Kompas yang menampilkan sosok  Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama  disela-sela  antre untuk memberikan penghormatan terakhir  di  Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama tutup usia pada Kamis (10/9) pada usia ke 88  tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di  Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada  Kamis (10/9).KOMPAS/HERU SRI KUMORO Pelayat membaca Harian Kompas yang menampilkan sosok Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama disela-sela antre untuk memberikan penghormatan terakhir di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama tutup usia pada Kamis (10/9) pada usia ke 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Kamis (10/9).
Tulisan reflektif sepuluh tahun lalu itu masih bertenaga untuk dibaca hari ini. Sepuluh tahun berselang, masih belum ditemukan tuntunan dalam cara dan sarana media massa hadir di tengah perubahan yang terus menerus terjadi.

Bukan semata-mata karena sebagian dari kita yang enggan berubah tetapi acuan perubahan itu juga terus berubah. Jati diri lembaga media massa adalah berubah.

Perubahan dalam cara, dalam sarana itu dilakukan terus menerus secara dinamis, secara lentur untuk mewujudkan cita-cita atau perkara yang dipegang teguh: Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia. 

Cara dan sarana bukan prinsip

Tidak banyak yang tahu bahwa dalam perjalanannya sejak didirikan 28 Juni 1965, harian Kompas pernah dua kali dilarang terbit oleh penguasa. Pertama bersama semua media massa pada 2-5 Oktober 1965 dan kedua bersama tujuh media massa lain pada 21 Januari 1978.

Sejarah ini tidak jadi ingatan publik karena bukan peristiwa heroik. Namun, karena peristiwa ini, khususnya pembredelan kedua, harian Kompas tumbuh dengan karakter yang dirawat hingga hari ini.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.