Ramai soal Jenazah Dimakan Burung, Ini Ritual Pemakaman Langit di Tibet

Kompas.com - 14/08/2020, 14:38 WIB
Ilustrasi kawanan burung bangkai atau burung nasar, spesies yang penting bagi ekosistem di Bumi. WIKIMEDIA COMMONS/Ad031259Ilustrasi kawanan burung bangkai atau burung nasar, spesies yang penting bagi ekosistem di Bumi.

KOMPAS.com - Sebuah unggahan utas di Twitter ramai diperbincangkan warganet tentang pemakaman jenazah yang tidak biasa.

Pemakaman itu dilakukan dengan cara membiarkan burung pemakan bangkai memakan jasad orang yang telah meninggal tersebut hingga hanya menyisakan tulang-belulang. 

Unggahan tersebut disukai lebih dari 17.700, diretwit hampir 5.000 akun dan dikomentari lebih dari 1.000 orang. 

Ternyata, tradisi pemakaman dengan cara seperti itu dikenal sebagai pemakaman langit, dan merupakan salah satu tradisi pemakaman yang ada di negara Tibet.

Dalam kepercayaan Buddhisme Tibet, ritual pemakaman langit dipercaya mewakili harapan mereka untuk bisa memasuki surga setelah meninggalkan dunia yang fana.

Ritual ini lazim dilakukan oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Eksperimen Ayam Tibet Ungkap Fakta Unik Cara Adaptasi Organisme, Kok Bisa?

Prosesi ritual

Melansir Tibet Travel, Jumat, (14/8/2020) apabila ada seorang penduduk Tibet meninggal dunia, jasadnya akan dibalut dengan kain putih dan disemayamkan di sudut rumah selama tiga hingga lima hari.

Pada periode ini, biksu atau lama, pemuka spiritual di Tibet, akan membacakan ayat-ayat suci kepada jenazah, agar jiwa yang meninggal bisa terbebas dari siksaan.

Keluarga yang ditinggalkan juga akan menghentikan aktivitas sehari-hari mereka, dan mengusahakan situasi rumah menjadi lebih tenang, agar jiwa yang meninggal mendapat jalan yang aman ke surga.

Setelah masa mendoakan usai, anggota keluarga kemudian memilih hari baik untuk pemakaman dan menghubungi rogyapas, pembawa jenazah, untuk melakukan prosesi pemakaman.

Sehari sebelum pemakaman, keluarga akan melepas kain yang membungkus jenazah dan memosisikan jenazah meringkuk seperti janin.

Pada hari yang telah ditentukan, jenazah dibawa ke gunung. Dupa khusus, Su, dibakar untuk menarik perhatian burung kondor.

Pemuka spiritual kemudian melantunkan ayat-ayat suci untuk melebur dosa yang meninggal, sementara rogyapas akan memulai ritual memotong-motong jasad.

Baca juga: Tahan Cuaca Ekstrem, Manusia Purba Paling Misterius Ini Ada di Tibet

Makna filosofis

Sosok orang TibetKevin Frayer Sosok orang Tibet

Ritual pemakaman langit memiliki makna filosofis yang dalam bagi penganut Buddha di Tibet.

Masyarakat setempat percaya bahwa ketika burung kondor memakan potongan-potongan jasad dari orang yang meninggal, artinya orang tersebut tidak memiliki dosa dan jiwanya akan pergi dengan tenang ke surga.

Selain itu, burung kondor juga dianggap sebagai binatang suci dan hanya memakan jasad manusia, tanpa menyerang binatang-binatang kecil yang ada di sekitar.

Sisa-sisa jasad yang tidak dimakan oleh burung kondor, akan dibakar dan Lama akan membacakan doa. Hal ini dilakukan karena sisa-sisa tubuh itu dipercaya akan mengikat jiwa orang yang meninggal dengan dunia.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X