Nadiem Sebut Pembelajaran Tatap Muka di Zona Hijau dan Kuning Diperbolehkan, Ini Tanggapan KPAI

Kompas.com - 08/08/2020, 09:28 WIB
Guru menggunakan masker dan pelindung wajah saat menerangkan pelajaran dalam kelas tatap muka di TK An-Nuur, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2020). Uji coba pembelajaran tatap muka ini berlangsung dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGGuru menggunakan masker dan pelindung wajah saat menerangkan pelajaran dalam kelas tatap muka di TK An-Nuur, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2020). Uji coba pembelajaran tatap muka ini berlangsung dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menyampaikan, sekolah yang berada di zona hijau dan kuning diperbolehkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan kebijakan tersebut tidak memaksakan adanya pembelajaran tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan di zona hijau dan kuning, melainkan merevisi surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yakni Mendikbud, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri untuk memperbolehkan.

Menurut Nadiem, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19 menimbulkan dua dampak yang serius, yakni ancaman putus sekolah dan risiko lost generation.

Baca juga: Curhatan Seorang Guru di Tengah Pandemi Corona...

Tanggapan KPAI

Terkait kebijakan tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, pihaknya menyayangkan keputusan pemerintah merevisi SKB 4 menteri dengan mengizinkan pembelajaran tatap muka pada zona kuning.

Menurutnya, pembelajaran tatap muka pada zona kuning sangat berisiko bagi anak-anak.

"Sangat berisiko bagi anak-anak. Jika melihat data Gugus Covid-19 berarti total yang diizinkan membuka sekolah mencapai 249 kota/kabupaten atau 43 persen jumlah peserta didik," ujar Retno kepada Kompas.com, Jumat (7/8/2020).

Ia menambahkan, KPAI memandang bahwa hak hidup dan hak sehat bagi anak-anak adalah yang lebih utama di masa pandemi saat ini.

"Apalagi dokter Yogi dari IDAI dalam rapat koordinasi dengan Kemdikbud beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa anak-anak yang terinfeksi covid 19, ada yang mengalami kerusakan pada paru-parunya," lanjut dia.

Terkait penularan Covid, Retno menambahkan bahwa anak juga berpotensi untuk menularkan Covid-19 kepada orang lain, kematian berpotensi akan meningkat terus.

Baca juga: Viral Pesan dan Foto Kondisi Paru-paru Anak 7 Tahun Penuh Cairan Diduga Covid-19

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X