Senjakala Kebudayaan Nusaraya

Kompas.com - 11/05/2020, 15:58 WIB
ilustrasi peta Indonesia THINKSTOCKS/NARUEDOMilustrasi peta Indonesia


SEMULA, budaya Nusantara menuntun anak-anak kandungnya menerima agama yang datang dari Timur Tengah.

Lalu yang terjadi kemudian, mereka malah membunuh kebudayaannya sendiri secara membabi buta, dalam kurun ratusan tahun.

Sebentar... Jika kalimat ini tidak kita telaah dengan baik, niscaya yang mencuat malah perbalahan.

Padahal kami sama sekali tidak sedang menyoal doktrin-dogma yang diajarkan tiga agama samawi tersebut. Tapi, lebih menitikberatkan bahasan pada laku keberagamaan yang salah kaprah—untuk tidak menyebutnya salah arah.

Apa yang kami teriakan di atas, sejatinya juga pernah dan masih terjadi di belahan barat bumi kita.

Di Eropa dan Amerika, misalnya, agama masih sering berbenturan dengan sains. Biologi molekuluer dan astrofisika, adalah dua cabang sains yang begitu sengit menghadapi penentangan dari agama.

Sementara di negeri ini, hal itu tak terlalu kentara. Malah yang lebih menonjol adalah penolakan khazanah kebudayaan, yang telah mengakar ribuan tahun silam, bahkan sebelum Islam hadir di muka bumi. Hal ini merujuk fakta bahwa Islam merupakan agama yang tumbuh subur di Zamrud Khatulistiwa.

Menyelami dengan cermat

Risalah sederhana ini hanya ingin mengajak sedulur sedanten yang mendaku Muslim, agar menyelami lagi ajaran agamanya secara cermat.

Perhatikanlah, saudaraku, betapa adzan dan tilawatil Quran itu sebenarnya kebudayaan suara. Di dalamnya ada harmonisasi bunyi dan tangga nada. Dalam matra budaya, masuk dalam kategori seni olah vokal.

Salat merupakan kebudayaan tubuh. Haji tak ubahnya festival akbar kemanusiaan yang berlangsung tanpa panitia penyelenggara.

Puasa Ramadhan sama belaka dengan ritus bangsa Nusantara yang sudah berlangsung sejak lama.

Lebaran pun kental dipengaruhi unsur kebudayaan masyarakat Quraisy di Makkah—yang mereka warisi dari tradisi bangsa Farsi.

Sebelum lebih jauh, perlu kiranya kita mengenali apa itu tradisi dan kebudayaan.

Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

Tradisi, sama dengan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat, juga penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang terbaik dan benar.

Sedang kebudayaan, hasil kegiatan dan penciptaan yang bersumber dari batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, atau keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalaman, lalu menjadi pedoman tingkah lakunya.

Jika penalaran itu bisa terpahami, maka mustahil Anda menolak tradisi sungkeman pada hari raya Idul Fitri.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X