Senjakala Kebudayaan Nusaraya

Kompas.com - 11/05/2020, 15:58 WIB
Ilustrasi Mitokondria. SHUTTERSTOCKIlustrasi Mitokondria.

Leluhur

Bila Anda lahir dari rahim kebudayaan Jawa, senyatanya laku itu adalah bagian utama dari cara kita berterimakasih dan bersyukur atas kehidupan yang diwarisi dari orangtua, yang juga mereka dapatkan dari para indung, dan teranugerahkan melalui para biyang.

Begitu seterusnya hingga kemudian kita berkenalan dengan istilah yang disebut sebagai leluhur.

Luluri, pitara (para leluhur), atau gantung siwur (nenek moyang kedelapan), berasal dari kosa kata Sansekerta.

Hal itu menunjukkan keterangan tentang; dari siapa kita berasal. Semua anak manusia pasti akan mencari akar pohon keluarganya—dengan segala cara.

Kehadiran kita di dunia ini, melewati proses kelahiran yang silih berganti. Ada sekian banyak manusia yang sudah mendahului kita, demi memunculkan seseorang paling kiwari.

Ya, dalam diri kita sekarang, tersimpan data melimpah seputar para penyusun gen, DNA, dan mitokondria yang kita bawa. Kita bukanlah pribadi tunggal tak berjejak.

Terlepas dari segala romantika yang melingkunginya, dan kerumitan penelusuran yang harus dilakukan, perlu juga disadari betapa sejatinya setiap kita sedang menyusun sebuah riwayat panjang di kemudian hari.

Suka atau tidak, kita telah mencatatkan diri dalam lembaran sejarah, sebagai biyang dari anak manusia yang akan datang—dan kelak mereka akan menyebut kita sebagai leluhurnya.

Masyarakat Sunda buhun mengenal suatu tatanan adab yang berbunyi: Indung tunggul rahayu, Bapak tangkal darajat. Ibu tempat kesejahteraan, Bapak tempat kehormatan.

Konsep indung itu pun masih terbagi tiga. Indung nu Maturan (Istri), Indung nu Ngalahirkeun (Ibu biologis), Indung nu Nangtukeun (Nenek).

Mitokondria

Mari sejenak kita menjelajahi ranah biologi molekuler sebagaimana yang digelorakan Richard Dawkins.

Etholog, biolog, dan evolusionis ini, menerangkan dengan cara mengagumkan dalam dua karyanya, The Selfish Gene (1976), dan River Out of Eden: A Darwinian View of Life (1995), terkait mitokondria yang tersimpan dalam tubuh nenek moyang kita.

Nenek yang dimaksud di sini bukan sekadar istilah, namun mengarah pada ibu sebagai sumber energi kehidupan.

Mitokondria berbentuk benang granula. Letaknya tersebar acak di sitoplasma, atau menempati lokasi tertentu di dalam sel, misalnya pada sel otot lurik. Ia mempunyai dua lapis membran: luar dan dalam.

Sekarang cobalah renungkan sejenak. Bagaimana caranya leluhur kita menggali khazanah pengetahuan sedemikian rupa, dan kemudian dibuktikan oleh Dawkins?

Fakta kehidupan dan dunia ilmiah juga telah menjabarkan, bahwa rekam jejak anak manusia telah ditentukan secara rigid oleh garis keturunan neneknya.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X