Senjakala Kebudayaan Nusaraya

Kompas.com - 11/05/2020, 15:58 WIB
Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya. AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKASejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.

Mitokondria adalah hadiah ibu untuk dunia yang kita jalani sekarang.

Kebudayaan nusaraya

Mari kita kembali ke soal utama. Negeri Bahari yang menjadi tempat kita bermukim ini, telah jamak diketahui dunia sebagai lahan subur peradaban berkebudayaan tinggi. Karena dihuni desiliunan sungai mitokondria dengan ragam tradisi-budaya.

Tengoklah betapa indah nan menawan pakaian tradisional suku bangsa bahari jika disejajarkan dengan produk bangsa lain.

Belum lagi kita bincangkan susastra, khazanah metalurgi, kuliner, rumah adat, jenis tarian, teater rakyat, arsitektur, alat musik yang melahirkan keindahan bunyi tak terperi macam gamelan, warisan budaya tak benda seperti silaturahim, dan gotong-royong.

Prof. Dr. Azyumardi Azra suatu kali bercerita. Ketika di Mesir, ia shalat Maghrib di sebuah masjid dengan memakai kain sarung dan batik.

Lantas Sang Imam menegur cara berpakaiannya. Intelektual Muslim kebanggaan Indonesia itu pun menjawab enteng, “Di negara saya pakaian seperti itu hanya dipakai wanita.”

Anekdot ini menggambarkan bahwa agama bukan sebatas pakaian belaka. Padahal pakaian khas Arab yang bernama ghamis, jelas bukan pakaian agama—yang sebenarnya adalah takwa.

Menilik kondisi kebudayaan kiwari kita saat ini, sejatinya sungguh sangat memprihatinkan.

Sudahlah tak melakukan temuan baru, dan enggan melestarikan, yang terjadi malah penggerusan tak karuan. Ini jelas merupakan pengkhianatan pada leluhur kita bangsa asli kepulauan: Nusaraya.

Sejauh ini, hanya masyarakat Bali yang dengan setia merawat-meruwat tinggalan kebudayaan yang masih mereka miliki dalam segala segi kehidupan.

Pada saat yang sama, mereka tak kehabisan cara untuk menerima dunia modern yang terus menggeliat.

Akhir kalam. Sebelum negeri ini menjadi tuna budaya, mari sama kita insyafi kesalahan yang berjela-jela. Kembalilah pada pangkuan Ibu Pertiwi.

Sebagai anak turunan bangsa penjelajah samudera, sudah selayaknya kita menjadikan jaladhi (samudra) selaku wahana pengenalan diri.

Jika pikiran dan hati kita sudah seluas segara, niscaya apa pun yang tercebur di dalamnya takkan merusak jati diri kita selaku pewaris sah Negeri Bahari yang gemah ripah.

 

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X