Setelah Lebih dari 100 Hari Virus Corona Mengubah "Wajah" Dunia...

Kompas.com - 10/04/2020, 06:11 WIB
Seorang petugas medis dari Provinsi Jilin (kanan) menangis saat memeluk rekan perawat yang bersama-sama selama menangani pasien corona, dalam sebuah acara perpisahan di Bandara Tianhe yang baru dibuka kembali di Wuhan, Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang bergegas meninggalkan Wuhan setelah otoritas mencabut kebijakan lockdown selama lebih dari dua bulan di lokasi yang diketahui sebagai episenter awal virus corona tersebut. AFP/HECTOR RETAMALSeorang petugas medis dari Provinsi Jilin (kanan) menangis saat memeluk rekan perawat yang bersama-sama selama menangani pasien corona, dalam sebuah acara perpisahan di Bandara Tianhe yang baru dibuka kembali di Wuhan, Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang bergegas meninggalkan Wuhan setelah otoritas mencabut kebijakan lockdown selama lebih dari dua bulan di lokasi yang diketahui sebagai episenter awal virus corona tersebut.

KOMPAS.com –  Virus corona. Akhir 2019, salah satu dari keluarga coronavirus, SARS-Cov-2, menyentak dunia.

Dideteksi pertama kali di China pada akhir 2019, virus penyebab Corona Virus Disease atau Covid-19 ini, telah menyebar hingga ke seluruh penjuru dunia, dan menjadi pandemi global.

Kini, sudah lebih dari 100 hari virus corona mengubah "wajah" dunia. Semua orang diminta berdiam diri di rumah dan menjaga jarak. Tinggalkan hiruk pikuk. Hindari kerumunan, dan diingatkan selalu rajin mencuci tangan.

Setelah lebih dari 100 hari, hingga Kamis (9/4/2020), sekitar 1,5 juta orang terinfeksi, 88.000 orang meninggal dunia. Dan, lebih dari 300.000 orang berhasil melawan virus corona dan dinyatakan sembuh.

Baca juga: Timeline Wabah Virus Corona, Terdeteksi pada Desember 2019 hingga Jadi Pandemi Global 

Virus corona mengubah "wajah" dunia

Seorang wanita berjalan dengan kereta bayi di sepanjang Via dei Fori Imperiali yang kosong, saat Italia melakukan tindakan tegas untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, di Roma, Italia, Senin (23/3/2020).ANTARA FOTO/REUTERS/REMO CASILLI Seorang wanita berjalan dengan kereta bayi di sepanjang Via dei Fori Imperiali yang kosong, saat Italia melakukan tindakan tegas untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, di Roma, Italia, Senin (23/3/2020).
"Wajah" dunia berubah setelah wabah virus corona. Jalanan di berbagai kota dunia yang biasanya padat, kini sepi.

Sejumlah negara memberlakukan penguncian atau lockdown, di antaranya China, Italia, Inggris, dan Malaysia.

Orang-orang yang biasanya terlihat sibuk hilir mudik, kini berdiam di rumah. Demi menghindari tertular virus corona.

Di China, sebuah papan iklan mengimbau orang-orang untuk menggunakan salam tradisional China yang disebut Gong Shou yakni kepalan tangan berlawanan.

Di sejumlah negara Eropa seperti Perancis, kebiasaan cipika-cipiki sebagai cara sapaan diimbau agar sebaiknya dihindari termasuk berjabat tangan di tempat kerja.

Di seluruh dunia, ada imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah, kecuali mereka yang berada di garda terdepan penanganan virus corona.

Virus corona juga berdampak terhadap lingkungan.

Seiring dengan diberlakukannya imbauan untuk di rumah saja, tingkat polusi udara di berbagai wilayah juga mengalami banyak penurunan.

Kini, pemandangan di Gunung Himalaya yang bisa dilihat dari jarak 200 kilometer.

Pemandangan seperti itu terakhir terlihat muncul 30 tahun lalu. Hal tersebut dibagikan pula oleh sejumlah netizen di India.

Di Indonesia, virus corona juga membawa dampak.

Foto-foto tentang langit Jakarta yang berwarna biru cerah banyak diunggah oleh netizen.

Terlihat pemandangan gunung di sekitar Jakarta yang biasanya tak pernah kelihatan.

Melihat "wajah" dunia yang berubah dalam 100 hari ini, mari kembali mengingat 100 hari wabah virus corona meresahkan dunia...

Pertama kali infeksi virus corona terdeteksi

Petugas medis yang mengenakan pakaian pelindung membantu pasien turun dari ambulans di luar rumah sakit di Wuhan, Hubei, China, pada 26 Januari 2020. Penyebaran virus corona sejak Desember 2019 sudah membunuh lebih dari 300 orang di China.EPA-EFE/YUAN ZHENG Petugas medis yang mengenakan pakaian pelindung membantu pasien turun dari ambulans di luar rumah sakit di Wuhan, Hubei, China, pada 26 Januari 2020. Penyebaran virus corona sejak Desember 2019 sudah membunuh lebih dari 300 orang di China.
Melansir dari Bloomberg, 3 April 2020, pasien terinfeksi virus corona pertama diketahui telah mengalami gejala pada 1 Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Sampel kemudian dikirimkan ke laboraorium termasuk sampel pasien lain pada 16 Desember 2019.

Hasilnya, ditemukan virus mirip SARS.

Pada 30 Desember 2019, Kepala Departemen ER Rumah Sakit Ai Fen, mengunggah foto virus itu, yang kemudian menyebar di kalangan dokter.

Ai Fen dan sejumlah dokter yang vokal meminta pemerintah bersiap karena ada infeksi virus jenis baru, justru mendapatkan peringatan dari pihak kepolisian.

Tindakan mereka dianggap bisa menimbulkan keresahan. 

31 Desember 2019

China akhirnya melaporkan sekelompok kasus pneumonia di Wuhan, Provinsi Hubei, sebagai akibat dari virus corona jenis baru.

1 Januari 2020

WHO telah membentuk IMST (Tim Pendukung Manajemen Insiden) di tiga tingkat organisasi yaitu markas besar, markas besar regional, dan tingkat negara yang menempatkan organisasi pada posisi darurat untuk menghadapi wabah.

Saat itu, otoritas kesehatan China menutup Pasar Grosir Makanan Laut Huanan setelah menduga hewan liar yag dijual di sana mungkin merupakan sumber virus.

Dokter Li Wenliang, seorang dokter di RS Wuhan, yang mencoba mengingatkan tentang bahaya virus ini, ditangkap bersama 8 orang lainnya dan dianggap telah menyebarkan desas-desus.

Baca juga: Mengenang Dokter Li Wenliang, Pertama Kali Ingatkan Wabah Corona hingga Meninggal karena Terinfeksi 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X