Gelombang Kedua Virus Corona di China dan Negara Asia yang Perlu Diwaspadai

Kompas.com - 09/04/2020, 18:30 WIB
Paramedis membawa seorang pasien ke pusat gawat darurat di Rumah Sakit Maimonides selama wabah virus corona di Brooklyn, New York City, AS, pada 7 April 2020. REUTERS/Brendan McDermidParamedis membawa seorang pasien ke pusat gawat darurat di Rumah Sakit Maimonides selama wabah virus corona di Brooklyn, New York City, AS, pada 7 April 2020.

KOMPAS.com - Para ilmuwan mengatakan bahwa China dan beberapa negara di Asia harus mewaspadai potensi gelombang kedua virus corona.

China misalnya, kembali muncul peningkatan kasus semenjak kebijakan karantina dicabut yang tentu saja membuat orang-orang kembali ke rumah mereka.

Ilmuwan mengatakan hal itu dapat terjadi karena lockdown di Provinsi Hubei, kawasan penularan awal Covid-19 telah dicabut.

Kebijakan itu diambil setelah kasus virus corona di sana turun hampir menjadi hampir nol.

Sebagai episentrum pusat penyebaran wabah, Provinsi Hubei sempat selama 60 hari tanpa adanya aktivitas apa pun.

Baca juga: Saat 100 Pramugari American Airlines Terkonfirmasi Positif Virus Corona...

Gelombang kedua corona di China

Seorang wanita dengan masker wajah dan sarung tangan menunggu jenazah kerabatnya di luar sebuah rumah sakit di Guayaquil, Ekuador, Rabu (1/4/2020). Otoritas Ekuador dalam beberapa hari terakhir telah mengumpulkan setidaknya 150 jenazah dari jalan-jalan dan rumah para warga di Kota Guayaquil, di tengah lonjakan kasus virus corona di wilayah tersebut.AFP/ENRIQUE ORTIZ Seorang wanita dengan masker wajah dan sarung tangan menunggu jenazah kerabatnya di luar sebuah rumah sakit di Guayaquil, Ekuador, Rabu (1/4/2020). Otoritas Ekuador dalam beberapa hari terakhir telah mengumpulkan setidaknya 150 jenazah dari jalan-jalan dan rumah para warga di Kota Guayaquil, di tengah lonjakan kasus virus corona di wilayah tersebut.

Saat ini, para ilmuwan tengah mengamati apakah dengan mencabut lockdown tersebut, dapat meningkatkan jumlah kasus infeksi baru.

Analisis awal menunjukkan bahwa, sejauh ini, ketakutan tersebut belum terjadi.

"Sudah waktunya untuk mengendurkan lockdown, tetapi kita perlu waspada terhadap kemungkinan gelombang infeksi kedua," kata ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong, Ben Cowling seperti dilansir Nature.

Cowling berpendapat bahwa gelombang kedua virus corona di China akan terjadi pada akhir April 2020.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X