Kompas.com - 26/03/2020, 14:07 WIB
Tes Covid-19 - Seorang pria berbicara kepada seorang perawat selama tes COVID-19 di sebuah bilik pengujian di luar rumah sakit Yangji di Seoul pada 17 Maret 2020. Sebuah rumah sakit Korea Selatan telah memperkenalkan bilik telepon. Hal tersebut dilakukan guna menghindari staf medis yang harus menyentuh pasien secara langsung dan mengurangi waktu disinfeksi. Ed Jones/AFPTes Covid-19 - Seorang pria berbicara kepada seorang perawat selama tes COVID-19 di sebuah bilik pengujian di luar rumah sakit Yangji di Seoul pada 17 Maret 2020. Sebuah rumah sakit Korea Selatan telah memperkenalkan bilik telepon. Hal tersebut dilakukan guna menghindari staf medis yang harus menyentuh pasien secara langsung dan mengurangi waktu disinfeksi.

KOMPAS.com – Pada akhir Februari dan sekitar awal Maret 2020, kasus positif virus corona terkonfirmasi naik signifikan di Korea Selatan dari jumlah kasus yang awalnya hanya puluhan terus bertambah mencapai ratusan hingga kemudian ribuan.

Puncaknya terjadi pada 29 Februari 2020 ketika jumlah kasus baru bertambah 909 kasus dalam sehari.

Tenaga kesehatan dan aparat berwenang di Korea Selatan kewalahan. Namun, kurang dari sepekan, jumlah kasus baru berkurang 50 persen, dan terus berkurang pada hari-hari berikutnya.

Melansir Straits Times, Minggu (22/3/2020), Korea Selatan melaporkan ada 64 kasus baru,

Angka ini paling sedikit dalam jangka waktu sebulan. Sementara, negara-negara lain terus melaporkan jumlah kasus yang tinggi setiap harinya, seperti Italia dan Spanyol.

Sempat mengalami peningkatan kasus yang signifikan, kini Korea Selatan berhasil membuat kurva kasus virus corona di negara itu menjadi rata.

Apa yang dilakukan Korea Selatan?

Korea Selatan tak menerapkan kebijakan lockdown total seperti diterapkan China dan sejumlah negara lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Yang dilakukan Korea Selatan kemudian menjadi kajian para pengambil kebijakan dan para pakar di sejumlah negara, untuk menjadikannya sebagai pelajaran.

Dari kajian itu, berikut beberapa hal yang dilakukan Korea Selatan dan bisa menjadi contoh penanganan negara-negara lain:

  • Tindakan cepat
  • Pengujian luas
  • Pelacakan kontak
  • Dukungan kritis dari warga

Baca juga: Cara Baru Korea Selatan Tes Corona, Gunakan Bilik Telepon

Sejumlah negara pun mulai mempelajari apa yang dilakukan Korea Selatan. Akan tetapi, ketika kasus sudah bertambah secara signifikan, penanganan tak bisa dilakukan dalam waktu cepat.

Kantor Kepresiden Moon Jae-in mengatakan, Presiden Emmanuel Macron dari Perancis dan Perdana Menteri Stefan Lofven dari Swedia, telah menghubunginya untuk mendapatkan penjelasan mengenai langkah-langkah yang diambil Korea.

Sementara itu, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga memuji keberhasilan Korea Selatan.

Tedros mendesak agar negara-negara lain untuk belajar dari Korea Selatan dan menerapkan di negaranya.

Akan tetapi, pejabat Korea Selatan mengingatkan bahwa keberhasilan mereka tentatif.

Risiko kebangkitan wabah kembali tetap ada, terutama karena epidemi terus terjadi di luar negeri.

Mantan Komisioner Food and Drug administration (FDA), Scott Gottlieb, mengatakan Korea Selatan menunjukkan Covid-19 dapat dikalahkan cara yang agresif.

Berikut beberapa pelajaran yang bisa diambil dari langkah Korea Selatan:

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.