Ngaben: Asal-usul, Tujuan, Prosesi, dan Macamnya

Kompas.com - 22/09/2021, 14:00 WIB
Prosesi Upacara Pngabenan di Desa Sudaji, Buleleng, Bali, Jumat (1/5/2020) lalu. Tribun/IstimewaProsesi Upacara Pngabenan di Desa Sudaji, Buleleng, Bali, Jumat (1/5/2020) lalu.

KOMPAS.com - Ngaben adalah upacara prosesi pembakaran mayat atau kremasi yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali.

Upacara Ngaben juga dikenal sebagai Pitra Yadyna, Pelebon, atau upacara kremasi.

Ngaben sendiri dilakukan untuk melepaskan jiwa orang yang sudah meninggal dunia agar dapat memasuki alam atas di mana ia dapat menunggu untuk dilahirkan kembali atau reinkarnasi.

Baca juga: Puputan Margarana, Pertempuran Rakyat Bali Mengusir Belanda

Asal Usul

Ngaben berasal dari kata beya yang berarti bekal. Ada juga yang mengatakan Ngaben berasal dari kata ngabu yang berarti menjadi abu.

Menurut keyakinan umat Hindu di Bali, manusia terdiri dari badan kasar, badan halus, dan karma.

Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakkan oleh atma (roh).

Ketika manusia meninggal, yang mati hanya badan kasarnya saja, sedangkan atma nya tidak.

Bagi masyarakat Bali, Ngaben merupakan peristiwa yang sangat penting, karena dengan pengabenan, keluarga dapat membebaskan arwah orang yang telah meninggal dari ikatan-ikatan duniawi menuju surga dan menunggu reinkarnasi.

Baca juga: Puputan Margarana, Pertempuran Rakyat Bali Mengusir Belanda

Tujuan Ngaben

Upacara Ngaben memiliki makna dan tujuan sebagai berikut:

  1. Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).
  2. Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka.
  3. Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

Baca juga: Kerajaan Dinasti Warmadewa di Bali

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.