Kompas.com - 16/02/2021, 13:17 WIB
Kavaleri Belanda di Sanur, Bali tahun 1906 Bali Chronicles (2004)Kavaleri Belanda di Sanur, Bali tahun 1906

KOMPAS.com - Puputan Margarana terjadi pada 20 November 1946. Perang ini terjadi di Desa Marga, Kecamatan Margarana, Tabanan, Bali.

Pertempuran ini dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, selaku Kepala Divisi Sunda Kecil. Ia bersama pasukannya bertempur secara habis-habisan untuk mengusir Belanda.

Latar belakang terjadinya Puputan Margarana

Dilansir dari situs Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kabupaten Klungkung, Puputan Margarana terjadi setelah Jepang kalah dan Belanda datang ke Indonesia untuk mengambil alih atau merebut daerah kekuasaan Jepang.

Belanda berambisi untuk membuat Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, I Gusti Ngurah Rai menolak rencana Belanda tersebut.

Mengutip dari Dharmasena (Majalah Resmi Departemen Pertahanan Keamanan) (1976), dalam Perjanjian Linggarjati 15 November 1946, Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia pada wilayah Jawa, Madura dan Sumatra.

Pengakuan secara de facto ini memunculkan rasa kekecewaan dalam hati rakyat Bali. Karena Bali belum diakui secara de facto sebagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Pertempuran Surabaya, Pertempuran Indonesia Pertama setelah Proklamasi

Kronologi terjadinya Puputan Margarana

Pada 18 November 1946, markas pertahanan atau militer Belanda di Tabanan, Bali diserang secara habis-habisan. Hal ini membuat Belanda murka dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Bali, khususnya Tabanan.

Belanda mengirimkan pasukan 'Gajah Merah', 'Anjing Hitam', 'Singa', 'Polisi Negara' dan 'Polisi Perintis. Tidak hanya itu, Belanda juga mengirimkan tiga pesawat pemburu miliknya.

Pasukan yang dikirim Belanda tersebut mulai melakukan serangan pada 20 November 1946 pukul 05.30 WITA, dengan menembaki area pasukan warga Bali.

Kekuatan persenjataan yang dimiliki pasukan tersebut tergolong minim, sehingga mereka belum bisa melakukan aksi balas serangan kepada pasukan Belanda.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keunikan Alat Musik Tradisional Bali

Keunikan Alat Musik Tradisional Bali

Skola
Tuma, Alat Musik Khas Kalimantan Barat

Tuma, Alat Musik Khas Kalimantan Barat

Skola
8 Alat Musik Daerah NTT

8 Alat Musik Daerah NTT

Skola
Alat Musik Tradisional Kalimantan Utara

Alat Musik Tradisional Kalimantan Utara

Skola
Bisakah Serigala Dijinakkan?

Bisakah Serigala Dijinakkan?

Skola
Kisah Sedih di Balik Kepunahan Burung Dodo

Kisah Sedih di Balik Kepunahan Burung Dodo

Skola
Alasan Ikan Hiu Menyerang Manusia

Alasan Ikan Hiu Menyerang Manusia

Skola
Apakah Fenomena Aurora Berbahaya?

Apakah Fenomena Aurora Berbahaya?

Skola
Fakta Unik Death Valley, Tempat Terpanas di Bumi

Fakta Unik Death Valley, Tempat Terpanas di Bumi

Skola
5 Kota Hantu yang Ditinggalkan Penduduknya

5 Kota Hantu yang Ditinggalkan Penduduknya

Skola
Seberapa Panas Suam-Suam Kuku?

Seberapa Panas Suam-Suam Kuku?

Skola
Kenapa Pria Tidak Bisa Membedakan Warna Lipstik?

Kenapa Pria Tidak Bisa Membedakan Warna Lipstik?

Skola
5 Alat Musik Tradisional NTB

5 Alat Musik Tradisional NTB

Skola
4 Alat Musik Daerah Jawa Barat

4 Alat Musik Daerah Jawa Barat

Skola
Keunikan Alat Musik Dogdog, Gendang Khas Banten

Keunikan Alat Musik Dogdog, Gendang Khas Banten

Skola
komentar
Close Ads X