Kompas.com - 24/02/2021, 11:10 WIB
Hingga April menjelang berakhir, banjir masih bebeapa kali memacetkan dan merepotkan warga Jakarta, seperti terjadi pada Senin (22 April 1996). KOMPAS/EDDY HASBY (ED)Hingga April menjelang berakhir, banjir masih bebeapa kali memacetkan dan merepotkan warga Jakarta, seperti terjadi pada Senin (22 April 1996).

KOMPAS.com - Banjir di Jakarta sudah terjadi sejak Raja Purnawarman memimpin Kerajaan Tarumanegara. Curah hujan yang tinggi dan kanal yang bermasalah menjadi penyebab utama banjir di Jakarta sering terjadi pada masa pendudukan Belanda di Batavia.

Hingga saat ini banjir masih menjadi permasalahan utama ibu kota. Banyak upaya yang telah dilakukan Gubernur DKI Jakarta untuk mengatasi permasalahan ini.

Menurut Zaenuddin HM dalam buku Banjir Jakarta (2013), pada 1996 Jakarta kembali dilanda banjir besar. Seluruh bagian ibu kota terlihat seperti danau berwarna kecoklatan.

Tahukah kamu bagaimana banjir di Jakarta dari 1996 hingga 2007?

Banjir Jakarta pada 1996

Meluapnya air Sungai Ciliwung menjadi penyebab utama banjir Jakarta di tahun 1996. Banjir ini rupanya menjadi banjir terparah sejak 1985. Karena jumlah titik banjir, korban, kerusakan dan kerugiannya sangatlah banyak.

Puluhan ribu warga Jakarta dan ribuan rumah terendam banjir. Ketinggian airnya pun berkisar 1,5 meter hingga 4 meter. Bahkan akses transportasi pun juga ikut terhambat, jalanan macet, perjalanan kereta api diberhentikan dan pesawat mengalami delay.

Baca juga: Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Tarumanegara hingga Hindia Belanda

Kerugian banjir Jakarta pada 1996 diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Enam orang tewas, tiga diantaranya meninggal dunia karena tersetrum listrik dan tiga lainnya meninggal karena terbawa arus banjir yang deras.

Para ahli mengatakan jika banjir Jakarta juga disebabkan oleh turunnya permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah di Jakarta secara berlebihan. Hal ini ditunjukkan dengan sejumlah bangunan yang tidak tegak lurus lagi. Contohnya Menara Museum Bahari di Jalan Tongkol.

Banjir Jakarta pada 1999

Pada 1999, Jakarta kembali dilanda banjir. Ketinggian airnya berkisar 30 sentimeter hingga 50 sentimeter. Lagi-lagi curah hujan yang tinggi dan air kiriman dari Bogor menyebabkan Sungai Ciliwung dan sungai lainnya di Jakarta tidak bisa menampung air lagi.

Banjir kali ini memang tidak separah tahun sebelumnya (1996), namun banyak warga yang harus mengungsi lantaran rumah mereka terendam banjir.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X