Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jenis dan Ciri Basa Madya dalam Bahasa Jawa

Kompas.com - 09/05/2024, 04:00 WIB
Eliza Naviana Damayanti,
Serafica Gischa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Madya (sekarang disebut sebagai krama madya) adalah salah satu tingkatan bahasa yang digunakan dalam unggah-ungguh bahasa Jawa versi lama. Bahasa ini menggunakan kata madya dengan awalan dan akhiran ngoko.

Menurut unggah-ungguh bahasa Jawa versi lama, madya berada di antara ngoko dan krama. Sebelumnya, madya dibagi menjadi tiga: madya ngoko, madyantara, dan madya krama. Pada unggah-ungguh bahasa Jawa versi baru, madya tidak dicantumkan lagi tidak berdiri sendiri seperti ngoko dan krama.

Meskipun demikian, madya masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kini, madya kadang-kadang dianggap sebagai bagian dari bahasa krama yang tidak halus dan tidak baku, maka disebut sebagai krama madya.

Baca juga: Kesalahan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa

Mari, kita belajar beragam krama madya!

Madya ngoko

Madya ngoko adalah bahasa madya yang menggunakan kata madya dan kata ngoko dengan awalan dan akhiran ngoko. Kata ganti orang kedua menggunakan kata dika, sedangkan kata ganti orang pertama menggunakan kata kula.

Penggunaan madya ngoko biasanya dipakai pada pembicaraan antara pedagang kepada pedagang.

Di bawah ini adalah contoh kalimat yang menggunakan madya ngoko:

  1. Mang madhang sega abang.
  2. Dika kok sajak kesusu ngajak mulih kula. Onten preluné napa, ta?.
  3. Dika napa arep mangan iwak wedhus?

Madya krama

Madya krama adalah bahasa madya yang menggunakan kata madya dan kata krama dengan awalan dan akhiran ngoko (Pendapat 1). Ada pendapat lain bahwa madya krama juga memuat kata krama inggil (Pendapat 2).

Penggunaan madya krama biasanya dipakai pada pembicaraan antara perempuan kepada suaminya.

Di bawah ini adalah contoh kalimat yang menggunakan madya krama:

  1. Mang nedha sekul abrit. (Pendapat 1)
  2. Pakné, wanci ngèten kok empun ajeng tindak teng kantor. Napa kathah padamelan? (Pendapat 2)
  3. Samang napa ajeng nedha ulam menda? (Pendapat 1)

Madyantara

Madyantara adalah bahasa madya yang menggunakan kata madya, kata krama, kata krama inggil dengan awalan dan akhiran ngoko. Ada pendapat lain bahwa madyantara hanya memuat kata madya dan kata krama (Pendapat 2).

Pendapat lainnya lagi mengatakan bahwa madyantara sama dengan madya ngoko, hanya berbeda pada kata ganti orang kedua yang menggunakan kata mang, samang, atau sampéyan pada madyantara (Pendapat 3).

Penggunaan madyantara biasanya dipakai pada pembicaraan antara perempuan kepada suaminya, priayi kecil kepada priayi kecil, dan priayi kepada saudaranya yang berpangkat lebih rendah.

Di bawah ini adalah contoh kalimat yang menggunakan madyantara:

  1. Mang dhahar sekul abrit.
  2. Sampéyan rak empun duwé tumbak sing luwih apik, ta?
  3. Sampéyan napa kersa dhahar ulam ménda?
  4. Sampeyan empun maem dereng?
  5. Kula nembe teko omah.
  6. Sepedane niku, mang pindah njobo.
  7. Bukune kula nembe dijilih kanca.

Ciri-ciri madyantara

Berikut adalah ciri dari madyantara:

  1. Kata "aku" diubah menjadi "kula".
  2. Kata "kowe" diubah menjadi "sampeyan" atau "samang".
  3. Ater-ater atau awalan tak-, diubah menjadi "kula".
  4. Ater-ater atau awalan ko-, diubah menjadi "samang" atau "mang".
  5. Tambahan -ku, diubah menjadi "kula".
  6. Tambahan -mu, diubah menjadi "sampeyan" atau "samang".
  7. Tambahan -e tidak diubah atau tetap.

Penggunaan madyantara

Penggunaan madyantara oleh masyarakat Jawa, yaitu:

  1. Masyarakat desa kepada orang lain yang lebih tua atau yang dihormati.
  2. Sesama priayi yang sudah akrab.
  3. Istri priayi kepada suaminya.

Baca juga: Penggunaan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa

Referensi:

  • Mohamad Ainun Isfak, B. W. (2033). Representasi Bahasa Jawa Krama Sebagai Bahasa Yang Melambangkan Tindak Kesopanan. Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra.
  • Munawwir Hadiwijaya, Y. S. (2022). Sikap Bahasa Generasi Muda Jawa terhadap Ragam Bahasa Jawa Krama Madya. Paradigma; Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Penokohan dalam Cerita Wayang Ramayana beserta Karakternya

Penokohan dalam Cerita Wayang Ramayana beserta Karakternya

Skola
Mengenal Pewayangan Mahabharata

Mengenal Pewayangan Mahabharata

Skola
Apa Itu Komunikasi Bencana?

Apa Itu Komunikasi Bencana?

Skola
Pengertian Pasar Global dan Ciri-cirinya

Pengertian Pasar Global dan Ciri-cirinya

Skola
Instrumen Perlindungan Hak Asasi PBB

Instrumen Perlindungan Hak Asasi PBB

Skola
Ciri-ciri Teks Argumentasi, Apa Saja?

Ciri-ciri Teks Argumentasi, Apa Saja?

Skola
Mengenal Cerita Fiksi dan Nonfiksi

Mengenal Cerita Fiksi dan Nonfiksi

Skola
Kalimat Majemuk Setara: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contohnya

Kalimat Majemuk Setara: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contohnya

Skola
Bedanya Konjungsi Koordinatif dan Subordinatif

Bedanya Konjungsi Koordinatif dan Subordinatif

Skola
Peribahasa: Pengertian, Ciri-ciri, Fungsi, dan Contohnya

Peribahasa: Pengertian, Ciri-ciri, Fungsi, dan Contohnya

Skola
Mengenal 3 Struktur Teks Deskripsi

Mengenal 3 Struktur Teks Deskripsi

Skola
Rumus Luas Jajaran Genjang beserta Contoh Soal dan Jawabannya

Rumus Luas Jajaran Genjang beserta Contoh Soal dan Jawabannya

Skola
Jawaban dari Soal 'Luas Alas Suatu Kubus 25 Cm^2'

Jawaban dari Soal "Luas Alas Suatu Kubus 25 Cm^2"

Skola
Apa Itu Komunikasi CSR?

Apa Itu Komunikasi CSR?

Skola
Bagaimana Cara Memahami Isi Teks Nonfiksi?

Bagaimana Cara Memahami Isi Teks Nonfiksi?

Skola
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com