Kompas.com - 18/01/2021, 15:30 WIB
Rumah adat suku Dayak yang disebut rumah panjang di Dusun Saham, Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Rumah yang oleh warga setempat disebut radakng itu dibangun tahun 1875. Pembuatan rumah ini sebagian besar menggunakan kayu ulin. KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRARumah adat suku Dayak yang disebut rumah panjang di Dusun Saham, Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Rumah yang oleh warga setempat disebut radakng itu dibangun tahun 1875. Pembuatan rumah ini sebagian besar menggunakan kayu ulin.
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Rumah Radakng atau rumah Panjang adalah salah satu rumah adat yang ada dan menjadi ciri khas di Provinsi Kalimantan Barat.

Rumah Panjang merupakan rumah adat suku Dayak yang berada di Kalimantan Barat. Rumah panjang berukuran besar, di mana memiliki ukuran panjang 138 meter dan tinggi 7 meter

Dikutip dari buku Mengenal Rumah Tradisional di Kalimantan (2017) karya Mahmud Jauhari Ali, Rumah Panjang merupakan rumah khas suku Dayak. Disebut rumah Panjang, karena rumahnya berbentuk memanjang.

Panjang rumah ada yang mencapai 300 meter. Rumah Panjang dihuni banyak keluarga, bisa mencapai hingga 60 kepala keluarga (KK).

Di mana itu memiliki makna bahwa persatuan dan kesatuan tetap terjaga di antara penghuninya. Dengan kata lain, pada masa sekarang rumah Panjang menjadi modal utama tetap bersatunya seluruh masyarakat Dayak dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga: Honai, Rumah Adat Provinsi Papua

Di bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh tetua adat. Pada umumnya bagian hulu rumah menghadap timur, sedangkan bagian hilirnya menghadap ke barat. Menghadap ke timur dan ke barat merupakan simbol bagi orang Dayak.

Hulu sebagai tempat terbitnya matahari memiliki filosofi kerja keras, yakni bekerja sedini mungkin.

Hilir yang menghadap ke barat tempat matahari terbenam memiliki filosofi tidak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari terbenam.

Bentuk rumah Panjang

Selain panjang, rumah tersebut tergolong tinggi atau berbentuk panggung. Ketinggian rumah dari tanah bisa mencapai 3-7 meter.

Ketinggian tersebut untuk menghindari rumah dari banjir, menghindari penghuni dari binatang buas, dan juga dari musuh.

Lebar rumah Panjang bisa mencapai 30 meter. Atapnya berupa atap pelana yang memanjang.

Baca juga: Rumah Bubungan Lima, Rumah Adat Provinsi Bengkulu

Atap pelana ini bisa tunggal dan bisa juga bertingkat. Pelataran rumah digunakan sebagai jalur lalu lintas antara kamar satu dan lainnya.

Rumah Panjang memiliki nama atau sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan sub-subsuku atau bagian-bagian dari rumpun Dayak. Ada enam rumpun Dayak besar atau induk di Kalimantan.

Keenam rumpun tersebut adalah, rumpun Dayak Apou Kayan, rumpun Dayak Iban, rumpun Dayak Murut, rumpun Dayak Punan, rumpun Dayak Ot Danum, dan rumpun Dayak Klemantan.

Dikutip dari jurnal Radakng sebagai Pusat Kebudayaan Suku Dayak di Kalimantan Barat (2019) karya Poltak Johansen, Rumah Panjang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Rumah Panjang mempunyai ciri-ciri berbentuk panggung, memanjang. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah Panjang harus memenuhi beberapa persyaratan seperti, bagian hulunya harusnya searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam .

Baca juga: Nuwo Sesat, Rumah Adat Provinsi Lampung

Hal itu dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.

Meski sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah, rumah Panjang tetapnya sebagai rumah hunian yang bernilai tinggi dan banyak mengandung makna bagi masyarakat Dayak.

Dengan mendiami rumah Panjang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya.

Sebagai pusat kebudayaan

Rumah Panjang atau Radakng bagi masyarakat Dayak tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal saja, tapi juga sebagai pusat kebudayaan.

Sebagai pusat kebudayaan tentunya memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat dan memberikan makna tersendiri bagi penghuninya.

Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Papua

Karena hampir seluruh hidup mereka berlangsung di sana. Rumah Panjang sebagai pusat kebudayaan dapat digunakan sebagai sarana interaksi.

Di mana rumah Panjang digunakan untuk kegiatan-kegiatan seperti rapat, pertemuan atau musyawarah adat dalam menentukan sanksi adat.l

Rumah Panjang merupakan sarana penting untuk menjalani kehidupan bermasyarakat dalam membina dan mempertahankan warisan budaya serta adat istiadat yang merupakan nilai-nilai luhur yang ditaati dan dihormati secara turun temurun.

Rumah Panjang telah membentuk mempersatukan mereka dalam komunitas dan berperan penting dalam pelaksanaan upacara-upacara adat.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X