Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bila Matahari Berhenti Bersinar

Kompas.com - 26/01/2020, 20:00 WIB
Arum Sutrisni Putri

Penulis

Jika sudah gelap, Bulan tiba-tiba menghilang karena tidak menghasilkan cahaya. Manusia bisa melihat Bulan karena sinar Matahari memantul dari permukaan Bulan. Saat sinar matahari yang menyinari Bulan menghilang, begitu pula Bulan.

Hal yang sama, akan berlaku pada banyak benda langit lainnya di angkasa, seperti planet. Karena benda-benda langit tersebut bisa terlihat akibat pantulan cahaya matahari.

Tanpa kehangatan Matahari, Bumi akan dengan cepat menjadi tempat yang jauh lebih dingin. Meski Bumi mempertahankan panas dengan cukup baik dan manusia tidak akan membeku seketika. Tetapi kehidupan akan menjadi sulit usai Matahari berhenti bersinar.

Baca juga: Peredaran Planet pada Matahari

Para ilmuwan memperkirakan rata-rata suhu permukaan global akan turun di bawah 0 derajat Fahrenheit dalam waktu seminggu atau lebih. Suhu akan terus turun dengan pasti.

Dalam setahun, rata-rata suhu permukaan global bisa turun di bawah -100 derajat Fahrenheit. Saat itu, lapisan atas lautan dunia akan membeku.

Meski lapisan atas lautan yang beku akan mengisolasi perairan dalam di bawahnya, dan membuatnya tetap cair selama ratusan ribu tahun.

Tetapi akhirnya akan membeku ketika Bumi bergerak menuju suhu permukaan global rata-rata yang stabil sekitar -400 derajat Fahrenheit.

Pada titik itu, atmosfir juga akan membeku dan jatuh ke Bumi. Akibatnya, makhluk hidup akan terpapar radiasi kosmik yang keras yang bergerak melalui ruang angkasa.

Tanpa sinar matahari, semua fotosintesis di Bumi akan berhenti. Semua tanaman akan mati dan akhirnya semua hewan yang bergantung pada tanaman untuk makanan, termasuk manusia, juga akan mati.

Meski melalui penemuan-penemuan manusia mungkin dapat bertahan hidup di Bumi. Tetapi tanpa Matahari, selama beberapa hari, bulan dan bertahun-tahun, kehidupan tanpa Matahari terbukti mustahil untuk bertahan di Bumi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com