Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Letusan Gunung Berapi Toba Jadi Pemicu Penyebaran Manusia dari Afrika

Kompas.com - 27/03/2024, 16:34 WIB
Monika Novena,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Manusia modern tersebar dari Afrika beberapa kali, namun peristiwa yang menyebabkan ekspansi global terjadi kurang dari 100.000 tahun yang lalu.

Ekspansi global ini menurut sebuah studi baru dipicu oleh letusan Toba, salah satu gunung berapi super terbesar dalam sejarah.

Baca juga: 5 Fakta Danau Toba, Danau Vulkanik Terbesar di Dunia

Saat melakukan penelitian di Tanduk Afrika, peneliti menemukan bukti yang menunjukkan bagaimana manusia modern awal bertahan hidup setelah letusan Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu.

Fleksibilitas orang-orang tersebut tidak hanya membantu mereka bertahan hidup melalui supererupsi Toba melainkan juga memfasilitasi penyebaran manusia modern ke luar Afrika ke seluruh dunia.

"Letusan Toba mungkin telah mengubah lingkungan di Afrika, namun orang-orang saat itu beradaptasi dan bertahan dari perubahan lingkungan yang disebabkan oleh letusan tersebut," kata Curtis Marean, peneliti dari Institute of Human Origins.

Mengutip Phys, Kamis (21/3/2024) peneliti mendapatkan kesimpulan setelah melakukan studi dengan metode cryptotephra baru di situs Shinfa-Metema 1 di dataran rendah barat laut Ethiopia.

Cryptotephra adalah pecahan kaca vulkanik khas yang ukurannya berkisar antara 80–20 mikron, lebih kecil dari diameter rambut manusia.

Untuk mengekstrak pecahan mikroskopis dari sedimen arkeologi membutuhkan kesabaran dan perhatian besar terhadap detail.

"Mencari cryptotephra di situs arkeologi seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun jika ketemu maka itu memiliki kemampuan untuk menghubungkan situs yang berjarak hingga 8046 km atau lebih jauh," kata Christopher Campisano, ilmuwan peneliti di Institute of Human Origins.

Baca juga: Danau Toba dan Legenda Letusan Dahsyat yang Mengubah Dunia

Hasilnya peneliti menemukan cryptotephra yang cocok dengan gunung Toba di situs Shinfa-Metema 1 di dataran rendah barat laut Ethiopia.

Kemudian Berdasarkan geokimia isotop gigi fosil mamalia dan cangkang telur burung unta, mereka menyimpulkan bahwa situs tersebut dihuni oleh manusia selama musim kemarau panjang.

Temuan tambahan menunjukkan bahwa ketika aliran sungai terhenti selama musim kemarau, masyarakat beradaptasi dengan berburu hewan yang datang ke sumber air yang tersisa.

Ketika lubang air terus menyusut, penangkapan ikan menjadi lebih mudah tanpa peralatan khusus, dan pola makan semakin beralih ke ikan.

Namun menyusutnya lubang air mungkin juga mendorong manusia untuk bermigrasi keluar untuk mencari lebih banyak makanan.

Fleksibilitas perilaku juga membantu mereka beradaptasi terhadap kondisi iklim yang menantang seperti supererupsi Toba, memungkinkan spesies kita pada akhirnya menyebar dari Afrika dan berkembang ke seluruh dunia.

Baca juga: Letusan Gunung Toba 74.000 Tahun Lalu Tak Pengaruhi Manusia Purba

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber PHYSORG
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com