Kompas.com - 15/08/2022, 08:05 WIB

KOMPAS.com - Cerita dengan genre kejahatan di dalamnya, baik itu fiksi maupun kisah nyata selalu punya banyak penggemar.

Banyak di antara kita yang sangat tertarik dengan kisah-kisah kejahatan baik di buku, drama televisi, film, maupun kasus-kasus di dunia nyata yang terjadi di sekitar kita.

Di Indonesia, saat ini masyarakat tengah menaruh perhatian terhadap kasus kejahatan penembakan dan manipulasi kronologi yang dilakukan Ferdy Sambo (tersangka) terhadap ajudannya Brigadir J (korban).

Baca juga: Heboh Kasus Perselingkuhan Berujung Pembunuhan, Ini Sisi Klinisnya

Sebelumnya tahun 2016, masyarakat di tanah air juga begitu tertarik mengikuti gelar perkara dari seri-seri persidangan, untuk mengungkap kejahatan kasus sianida yang melibatkan Mirna Salihin (korban) dan Jessica Kumala Wongso (terdakwa).

Lalu, sebenarnya mengapa kita sangat tertarik dengan cerita tentang kejahatan?

Ahli psikolog forensik Richard Lettieri Ph.D dalam Psychology Today edisi (24/9/2022) mengatakan, bahwa kecenderungan kita tertarik dengan cerita kejahatan adalah karena itu merupakan sisi batasan manusia dengan hal yang tersembunyi dari diri kita.

Pada dasarnya, sikap ataupun pemikiran dan perangai yang mendominasi dalam diri seseorang dibentuk oleh konvensi sosial, ketakutan, tugas, kasih sayang, keberanian, rasa bersalah, identifikasi dengan orang yang dicintai, dan lain sebagainya.

Semua faktor pendukung itu akan menyatu menjadi sesuatu yang disebut kebajikan, namun selalu tergoyah dengan sisi gelap dan bayangannya.

Richard menjelaskan, sama seperti kebajikan, sisi gelap ini ada dalam diri kita.

Dorongan-dorongan untuk menipu, melukai seseorang, untuk melampaui batas-batas itu sebenarnya ada, tetapi dengan kebajikan yang dominan akan memendam sisi gelap itu dan tak tersalurkan kepada hal-hal seperti apa yang kita sebut dengan kejahatan.

Psikolog evolusioner David Buss, dalam bukunya The Murder Next Door: Why the Mind Is Designed to Kill, melakukan penelitian dan menemukan bahwa 91 persen pria dan 84 persen wanita memiliki fantasi yang jelas untuk membunuh seseorang.

Pikiran seperti itu biasanya terjadi pada kita semua, tetapi biasanya tetap berada di alam pikiran atau fantasi pada saat-saat kemarahan atau irasionalitas yang cepat berlalu.

Nah, hal inilah yang berbeda dengan para terdakwa pelaku kejahatan yang ada di cerita-cerita fiksi, maupun kisah nyata di sekitar kita.

Tindakan yang mengerikan itu dilakukan oleh terdakwa karena kondisi manusia itu sendiri, di mana bagian potensial fantasi dan sisi gelap di alam pikiran kita tidak lagi dapat disangkal, dirasionalisasikan, atau dikendalikan lagi.

Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh Psikolog Dr Meg Arroll dilansir dari Telegraph edisi (9/9/20219).

Arroll menjelaskan, bahwa kegelapan subjek inilah yang membuth kisah kejahatan nyata begitu menarik bagi kita.

“Sebagai manusia, kita ingin memahami sisi gelap dari sifat kita,” kata dia.

“Kisah kriminal yang sebenarnya, memungkinkan kita untuk menjelajahinya dengan cara yang aman, dari jarak yang aman,” tambahnya.

Baca juga: Cerita Tragis dari Bangkai Kapal Batavia dan Kejamnya Perompak

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.