BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Budidaya Lorong Bantu Produksi Jagung Terdorong

Kompas.com - 17/11/2021, 13:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Jeni Hariyanti

Sebagai wilayah yang kaya dengan keragaman hayati (biodiversity), Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan produk pangan nasional, sebagai dasar dalam peningkatan ketahanan pangan nasional.

Masih banyaknya lahan Sub-Optimal (lahan kering) yang belum pernah diolah secara optimal menjadi sumber pangan, sehingga perlu adanya sentuhan teknologi yang dapat menghidupkan lahan-lahan tidur/mati selama ini dapat difungsikan kembali.

Teknologi Budidaya Lorong (Alley Cropping) merupakan salah satu solusi yang bisa dikembangkan di lahan-lahan yang bersifat kritis dan kering, dan sekaligus mampu meningkatkan unsur hara khususnya hal kesuburan tanah.

Baca juga: Kenapa Manusia Tidak Bisa Mencerna Jagung dengan Baik?

Sehingga, lahan yang sebelumnya mati menjadi produktif hingga dapat ditanami dan menghasilkan produksi yang benar-benar dibutuhkan oleh penduduk sekitar khususnya.

Sebagai testimoni pemanfaatan Teknologi Budi Daya Lorong ini BPPT telah memilih daerah yang mempunyai lahan Sub Optimal adalah Gunungkidul.

Peluang pengembangannya antara lain berupa lahan yang tersedia cukup luas, memiliki topografi bergelombang sampai berbukit ( kemiringan 25-80% ) dan sifat tanahnya yang kering dan waktu yang banyak.

Oleh karena itu, teknik konservasi tanah dan air harus menyertai usaha tani Jagung pada lahan kritis tersebut.

Hal ini dapat memberikan pengetahuan kepada petani tentang manfaat budidaya lorong dengan Flemengia sebagai usaha konservasi tanah dan air.

Dalam penelitian ini, digunakan Flemengia congesta sebagai pupuk hijau untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Jenis pupuk hijau ini dipilih karena merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman yang berasal dari tanaman pupuk hijau yang tumbuh merambat atau menjalar di permukaan tanah, yang biasanya digunakan sebagai penutup tanah, tumbuhan perdu atau tumbuhan berbentuk pohon.

Tanaman ini dipilih juga dalam rangka usaha tani jagung, karena mempunyai sifat mudah diperbanyak, menghasilkan banyak bahan organik, dan mempunyai daya adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, serta dapat menjadi sumber pakan ternak pada lahan yang kritis.

Tanaman pupuk hijau adalah tanaman-tanaman yang mempunyai peranan dapat menyuburkan tanah karena sifat-sifat pertumbuhannya serta kualitas dan kuantitas bahan organik yang dihasilkan, Ditjen BP. Hortikultura (2002).

Pupuk hijau dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui: penyediaan unsur hara, meningkatkan KTK, memperbaiki struktur tanah dan memperbaiki sifat biologi tanah, Soepardi G. (1979 dan 1988).

Kegiatan sosialisasi Alley Cropping ini dilaksanakan dan berkoordinasi dengan instansi terkait di Kabupaten Gunung Kidul melalui Bappeda dan Dinas Pertanian.

Dimulai dari cara pembuatan kontur saat persiapan tanam hingga saatnya panen yang membutuhkan waktu minimal 8 (delapan) bulan dari tanggal (3 Maret – 3 Oktober) tahun 2011.

Pendanaan oleh Ristek Tahun Anggaran 2011, melalui Program Insentif Dewan Riset Nasional Kementerian Negara Riset Dan Teknologi, dengan No. Pendaftaran On Line : RT-104.
Budidaya lorong (alley cropping) merupakan teknologi yang bermanfaat untuk konservasi tanah dan air, karena efektivitasnya dalam pengendalian erosi, khususnya pada lahan lahan miring yang digunakan usaha budidaya tanaman pangan.

Menurut Alegre dan Rao (1995), budidaya lorong (alley cropping) dapat menahan kehilangan tanah sebanyak 93% dan air sebanyak 83% dibandingkan dengan penanaman tunggal semusim.

Efektivitas pengendalian erosi ini, selain hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar.

Juga menurut Alegre dan Rao (1995) yang mengemukakan, bahwa rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa, sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan.

Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan, sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi.

Selanjutnya, tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi.

Baca juga: Mengenal Tanaman Porang, dari Manfaat, Budidaya, hingga Jenis

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.