Kompas.com - 20/09/2021, 08:02 WIB
Sejumlah lembaga keuangan global, pada Agustus lalu, mengungkap rencana membuat skema yang memungkinkan penutupan pembangkit listrik bertenaga batu bara di Asia dalam tenggat waktu yang lebih cepat. Namun, rencana ini dikritik PBB, termasuk dari Indonesia. GETTY IMAGES via BBC INDONESIASejumlah lembaga keuangan global, pada Agustus lalu, mengungkap rencana membuat skema yang memungkinkan penutupan pembangkit listrik bertenaga batu bara di Asia dalam tenggat waktu yang lebih cepat. Namun, rencana ini dikritik PBB, termasuk dari Indonesia.

KOMPAS.com - Terlepas dari semua janji pimpinan berbagai negara untuk mengambil tindakan, suhu dunia masih memanas menuju tingkat yang berbahaya. Ini adalah penilaian blak-blakan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Para ahli yang bekerja untuk PBB telah mempelajari rencana penanganan persoalan iklim dari lebih 100 negara, termasuk Indonesia, yang mereka sebut tidak meningkatkan target mengurangi emisi karbon sejak tahun 2015.

Para pakar di PBB menyimpulkan bahwa kita sedang menuju ke arah yang salah.

Para ilmuwan baru-baru ini menyatakan, untuk menghindari dampak terburuk dari peningkatan suhu, emisi karbon global perlu dikurangi hingga 45 persen pada tahun 2030.

Namun, analisis ini menunjukkan bahwa emisi karbon justru akan meningkat sebesar 16 persen selama periode tersebut.

Baca juga: Menakar Korelasi Perubahan Iklim dan Lingkungan terhadap Ekonomi Biru

Situasi itu pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan suhu hingga 2,7 derajat celsius di atas masa pra-industri. Ini jauh di atas batas yang ditetapkan oleh komunitas internasional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Peningkatan 16 persen merupakan penyebab keprihatinan besar," kata Patricia Espinosa, kepala tim negosiator urusan iklim PBB.

"Ini sangat kontras dengan seruan kalangan sains untuk mengurangi emisi secara cepat, berkelanjutan, dan berskala besar demi mencegah konsekuensi dan penderitaan iklim yang paling parah, terutama di wilayah yang paling rentan, di seluruh dunia," ujarnya.

Ini adalah peringatan keras terkait skala persoalan yang akan dibicarakan pada konferensi iklim COP26. Ajang ini dijadwalkan berlangsung di Glasgow, Skotlandia, enam minggu mendatang.

Tujuan utama dari perhelatan raksasa ini adalah demi menjaga harapan terkait upaya membatasi kenaikan suhu global dengan cara membujuk banyak negara mengurangi emisi mereka.

Di bawah aturan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, negara-negara diminta memperbarui rencana pengurangan karbon mereka setiap lima tahun.

Namun, PBB menyebut bahwa dari 191 negara yang mengambil bagian dalam Perjanjian Paris, hanya 113 negara yang sejauh ini memberikan janji yang lebih baik.

Alok Sharma, Presiden Konferensi COP26, berkata bahwa negara-negara yang memiliki rencana iklim ambisius "sudah membengkokkan kurva emisi ke bawah".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.