Kompas.com - 01/06/2021, 16:32 WIB
Ini adalah peta paling rinci dari sebaran materi gelap di alam raya. Bagian yang terang menggambarkan materi gelap dengan konsentrasi paling tinggi - di situlah galaksi terbentuk. N Jeffrey/Dark Energy Collaboration via BBC IndonesiaIni adalah peta paling rinci dari sebaran materi gelap di alam raya. Bagian yang terang menggambarkan materi gelap dengan konsentrasi paling tinggi - di situlah galaksi terbentuk.

KOMPAS.com - Tim peneliti internasional telah membuat peta terbesar dan paling rinci atas apa yang disebut materi gelap di alam semesta.

Hasilnya mengejutkan kalangan ilmuwan, karena peta ini menunjukkan materi gelap yang lebih halus dan lebih tersebar, berbeda jika dibandingkan dengan prediksi teori-teori selama ini.

Pengamatan tersebut nampaknya bertentangan dengan teori relativitas umum Einstein - sehingga memunculkan teka-teki baru bagi para peneliti.

Hasil pengamatan ini telah dipublikasikan oleh Dark Energy Survey Collaboration.

Baca juga: Tulisan Ikonik Persamaan E=mc2 Milik Albert Einstein Dilelang, Terjual Rp 17,2 Miliar

Materi gelap adalah zat tak kasat mata yang dapat menembus ruang. Zat ini berkontribusi terhadap 80 persen materi di alam semesta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para ahli astronomi dapat mengetahui keberadaannya, karena materi gelap ini dapat mendistorsi cahaya dari bintang-bintang yang jauh. Semakin besar distorsinya, semakin besar konsentrasi dari materi gelap.

Dr Niall Jeffrey dari École Normale Supérieure di Paris, yang ikut membuat peta itu, mengatakan bahwa hasil gambaran materi gelap ini memunculkan "persoalan nyata" bagi ilmu fisika.

"Jika perbedaan ini benar, kemungkinan Einstein telah keliru," katanya kepada BBC News.

"Anda mungkin berpikir bahwa itu adalah hal yang buruk, mungkin akan membuat ilmu fisika runtuh. Tapi bagi para fisikawan, ini sangat menyenangkan. Artinya, kita dapat menemukan sesuatu yang baru mengenai keberadaan alam semesta yang sebenarnya."

Profesor Carlos Frenk dari Durham University, yang meneliti berdasarkan pemikiran-pemikiran Albert Einstein dan para ilmuwan lain dalam mengembangkan teori kosmologi, mengaku perasaannya bercampur aduk mendengar kabar itu.

"Saya menghabiskan waktu saya terhadap teori ini, dan hati saya berkata tidak ingin melihatnya runtuh. Tapi otak saya mengatakan bahwa pengukurannya [peta materi gelap] sudah benar, dan kita harus melihat kemungkinan hukum fisika yang baru," kata Prof Frenk.

"Lalu perut saya melilit, karena kami tak punya dasar yang kuat untuk mengeksplorasi, karena kami tak punya teori fisika dapat jadi pegangan. Hal ini membuat saya gugup dan takut, karena kita memasuki domain yang sama sekali tidak dikenal, dan entah apa nantinya yang akan kita temukan."

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.