Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bakteri di Usus Pengaruhi Keparahan Covid-19 dan Risiko Long Covid

Kompas.com - 18/01/2021, 08:05 WIB
Bestari Kumala Dewi

Penulis

Sumber WebMD

 

Tingkat sitokin tinggi

Para peneliti juga menemukan, jumlah bakteri ini tetap rendah hingga 30 hari setelah pasien yang terinfeksi memberantas virus corona dari tubuh.

Covid-19 memicu sistem kekebalan untuk membuat badai sitokin, dan dalam beberapa kasus, respons ini bisa berlebihan, menyebabkan kerusakan jaringan yang meluas, syok septik, dan kegagalan organ.

Sementara itu, analisis sampel darah menemukan bahwa ketidakseimbangan mikroba pada pasien Covid-19 dikaitkan dengan tingginya tingkat sitokin inflamasi dan penanda darah dari kerusakan jaringan, seperti protein C-reaktif.

Baca juga: Apakah Sakit Tenggorokan Termasuk Gejala Covid-19?

Seorang ahli AS yang bukan bagian dari penelitian menunjukkan bahwa mikrobioma seseorang bereaksi terhadap semua jenis kondisi yang mungkin terkait atau tidak terkait dengan Covid-19.

"Sangat jelas bahwa keanekaragaman hayati tinja berubah sebagai respons terhadap banyak hal, termasuk usia, pola makan, penyakit autoimun yang mendasari, dan paparan antibiotik," kata Dr Arun Swaminath, kepala divisi gastroenterologi di Lenox Hill Hospital, New York City.

Pertanyaan kritisnya adalah, apakah perubahan ini unik untuk Covid-19 atau biasanya terlihat pada pasien yang sakit, yang mungkin dirawat di rumah sakit karena penyakit terkait non-Covid?

“Beberapa data yang dipublikasikan lebih awal, di antara populasi dengan mikrobioma usus yang berubah, seperti pasien dengan penyakit radang usus yang terinfeksi Covid-19, tidak mengalami hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan populasi umum," kata Swaminath.

"Namun, apa yang dilakukan Ng dapat membantu kami mengidentifikasi mereka yang belum pulih dari infeksi Covid-19, menggunakan pengujian keanekaragaman hayati tinja," tambahnya.

Baca juga: Studi Temukan, Genetika Mungkin Pengaruhi Keparahan Gejala Corona

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com