Kompas.com - 18/01/2021, 08:05 WIB
Ilustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona ShutterstockIlustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona

KOMPAS.com - Pulih dari Covid-19 bukan berarti perjuangan seseorang melawan virus corona telah berakhir. Pasalnya, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 32 persen orang mengalami efek kesehatan jangka panjang dari Covid-19, yang disebut long Covid oleh para peneliti.

Sebuah studi baru yang telah dipublikasikan di jurnal Gut menunjukkan, bakteri di usus kemungkinan berperan dalam tingkat keparahan infeksi Covid-19 dan kekuatan respons sistem kekebalan.

Tidak hanya itu, menurut para peneliti, ketidakseimbangan dalam mikrobioma dapat menyebabkan gejala peradangan lanjutan, yang sering disebut long Covid.

Baca juga: Studi: Golongan Darah Pengaruhi Risiko Keparahan Infeksi Covid-19

"Ketidakseimbangan dalam mikrobioma berkontribusi pada keparahan Covid-19, dan jika terus berlanjut setelah pembersihan virus, dapat berkontribusi pada gejala persisten dan sindrom peradangan multi-sistem seperti sindrom long Covid," kata ketua peneliti Dr Siew Ng, profesor dari Institute of Digestive Disease di Chinese University, Hong Kong.

"Pemulihan bakteri menguntungkan yang hilang dapat meningkatkan kekebalan kita terhadap virus SARS-CoV2 dan mempercepat pemulihan dari penyakit tersebut," katanya.

"Mengelola Covid-19 tidak hanya bertujuan untuk memberantas virus, tetapi juga memulihkan mikrobiota usus."

Namun, Dr Ng mengatakan, penelitian tersebut belum dapat membuktikan bahwa ketidakseimbangan dalam mikrobioma menyebabkan Covid-19 menjadi lebih parah, hanya tampaknya ada hubungan antara virus dan bakteri di usus.

“Tetapi bukti berkembang bahwa bakteri usus terkait dengan penyakit inflamasi,” katanya.

Melansir WebMD, untuk penelitian tersebut, para peneliti mempelajari sampel darah dan tinja dari 100 pasien dengan Covid-19 dan dari 78 orang tanpa infeksi yang merupakan bagian dari studi mikrobioma sebelum pandemi dimulai.

Mereka menemukan bahwa dalam 274 sampel tinja, mikrobioma usus berbeda secara signifikan antara pasien dengan dan tanpa Covid-19, terlepas dari apakah mereka telah diberi obat, termasuk antibiotik.

Misalnya, orang dengan Covid-19 memiliki lebih sedikit jenis bakteri yang dapat memengaruhi respons sistem kekebalan dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi. Berkurangnya jumlah bakteri ini dikaitkan dengan tingkat keparahan infeksi.

Baca juga: Mengenal Long Covid dari Gejala, Deteksi hingga Dinyatakan Sembuh

Halaman:


Sumber WebMD
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X