Kompas.com - 10/01/2021, 17:00 WIB
Ilustrasi Vaksin Covid-19 (shutterstock). Kompas.COM/MUHAMMAD NAUFALIlustrasi Vaksin Covid-19 (shutterstock).

KOMPAS.com - Kelompok usia 18 sampai 59 tahun masuk dalam gelombang pertama vaksinasi massal Covid-19 di Indonesia pekan depan, sementara mereka yang berusia 60 tahun ke atas tidak diprioritaskan mendapat vaksinasi.

Strategi ini berbeda dari negara-negara lain yang telah memulai vaksinasi, misalnya Inggris dan Amerika Serikat, yang umumnya memprioritaskan kelompok lansia setelah tenaga kesehatan.

Salah seorang juru bicara vaksinasi Covid-19 mengatakan bahwa dengan memberi kekebalan pada warga berusia 18-59 tahun, warga yang lebih tua bisa ikut terlindungi.

Pakar epidemiologi memperingatkan bahwa kelompok lansia harus dilindungi sambil menunggu adanya vaksin yang dianggap aman untuk mereka.

Baca juga: BPOM Jelaskan Perkembangan Vaksin Covid-19 dari Keamanan, Khasiat dan Mutu

Dalam petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan pada tanggal 2 Januari, dijabarkan bahwa vaksinasi dilaksanakan dalam empat tahap.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tahap pertama, dengan waktu pelaksanaan Januari sampai April 2021, menyasar tenaga kesehatan dan pekerja lainnya yang bertugas di garis depan penanganan pandemi.

Tahap kedua, dalam periode yang sama, menyasar petugas pelayanan publik dan kelompok usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas.

Tahap tiga dan empat, dilaksanakan April 2021 sampai Maret 2022, menyasar kelompok masyarakat rentan dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan klaster sesuai ketersediaan vaksin.

Alasan lansia tidak divaksin duluan

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan warga usia 60 tahun ke atas tidak diprioritaskan sebagai penerima vaksin dalam tahap pertama karena pemerintah ingin menjamin keamanan vaksin bagi kelompok usia tersebut.

Seperti diketahui, dalam tahap pertama vaksinasi Indonesia akan menggunakan CoronaVac dari perusahaan asal China, Sinovac.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

Oh Begitu
Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Oh Begitu
Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Oh Begitu
10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

Oh Begitu
Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Oh Begitu
Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Fenomena
Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Oh Begitu
Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Oh Begitu
Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Fenomena
5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

Oh Begitu
Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Oh Begitu
Epidemiolog: Aturan Karantina Pelaku Internasional 7 Hari Bagus, tapi...

Epidemiolog: Aturan Karantina Pelaku Internasional 7 Hari Bagus, tapi...

Oh Begitu
Masker Katup Disebut Dalang Penularan Omicron di Hong Kong, Kok Bisa?

Masker Katup Disebut Dalang Penularan Omicron di Hong Kong, Kok Bisa?

Oh Begitu
Negara dengan Zona Waktu Terbanyak, Memiliki 12 Zona Waktu

Negara dengan Zona Waktu Terbanyak, Memiliki 12 Zona Waktu

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.