Indonesia Hasilkan 64 Juta Ton Sampah, Bisakah Kapasitas Pengelolaan Tercapai Tahun 2025?

Kompas.com - 18/12/2020, 07:02 WIB
Petugas kebersihan DKI Jakarta mengangkut sampah yang terbawa arus menggunakan alat berat di Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2020). Kenaikan muka air di Pintu Air Manggarai diakibatkan oleh hujan yang mengguyur kota Bogor dan Jakarta mulai Senin malam (21/9/2020) selama beberapa jam. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas kebersihan DKI Jakarta mengangkut sampah yang terbawa arus menggunakan alat berat di Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2020). Kenaikan muka air di Pintu Air Manggarai diakibatkan oleh hujan yang mengguyur kota Bogor dan Jakarta mulai Senin malam (21/9/2020) selama beberapa jam.


KOMPAS.com- Persoalan pengelolaan sampah masih menjadi masalah pelik bagi Indonesia.

Sebab, sebagian besar sampah yang dihasilkan rumah tangga masih bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sementara, kapasitas TPA sampah, khususnya di kota besar sudah semakin penuh.

Bahkan, tidak mudah untuk mencari lahan untuk membuka lagi TPA baru untuk menampung sampah-sampah yang dikumpulkan dari masyarakat.

Dalam webinar Waste4Change Appreciation Day yang digelar Kamis (17/12/2020) sejumlah ahli menyoroti pentingnya kolaborasi dan komunikasi dalam mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia.

Baca juga: Sampah Plastik Ancam Keberadaan Hutan Mangrove Jawa

 

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2019, merilis bahwa saat ini Indonesia menghasilkan sedikitnya 64 juta ton timbunan sampah setiap tahunnya.

Berdasarkan data tersebut, sekitar 60 persen sampah diangkut dan ditimbun ke TPA, 10 persen sampah didaur ulang, sedangkan 30 persen lainnya tidak dikelola dan mencemari lingkungan.

"Di tahun 2025, bisakah kita mewujudkan apa yang telah ditetapkan presiden di tahun itu, pengelolaan sampah kita bisa dikelola 100 persen. Itu masih dalam kondisi pertimbangan minimal, dengan 30 persen pengurangan dan 70 persen penanganan (sampah)," jelas Direktur Pengelolaan Sampah KLKH Novrizal Tahar, ST, MSi.

Sebuah kendaraan angkutan sampah memasuki lokasi TPA Pasirsembung, Cianjur, Jawa Barat. Pemilihan dan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dinilai bisa memudahkan pengelolaan sampah di tingkat akhirKOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Sebuah kendaraan angkutan sampah memasuki lokasi TPA Pasirsembung, Cianjur, Jawa Barat. Pemilihan dan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dinilai bisa memudahkan pengelolaan sampah di tingkat akhir

Untuk mencapai target kapasitas pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2025, Novrizal mengatakan ada beberapa hal yang harus diupayakan, di antaranya sebagai berikut.

  1. Pengurangan sampah plastik ke laut hingga 70 persen.
  2. Menurunkan indeks ketidak pedulian terhadap persoalan sampah.
  3. Meningkatkan kesadaran masyarakat memilah sampah sampai 50 persen. Saat ini angkanya masih 11 persen.
  4. Recycling rate perlu ditingkatkan menjadi 50 persen.
  5. Pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) juga harus ditingkat.

Saat ini, beragam upaya juga mulai dilakukan untuk meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat dalam mengelola sampah.

Baca juga: Tahun 2040, 1,3 Miliar Ton Sampah Plastik Akan Tenggelamkan Bumi

 

"Ada upaya-upaya untuk mendorong eco living dan gaya hidup minim sampah, yang sudah mulai banyak dilakukan oleh kalangan milenial," ungkap Novrizal.

Selain itu, pihaknya juga telah melihat peningkatan respons dari para produsen untuk mengurangi sampah, baik produk maupun dari kemasan.

Direktur Sanitasi, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir. Prasetyo, M.Eng menambahkan pengelolaan sampah dari sisi sarana dan prasarana telah menjadi fokus penting bagi kementerian ini.

"Kami bekerjasama dengan Waste4Change untuk melakukan pendampingan pengelolaan TPS yang menggunakan sistem reduce, reuse, recycle atau yang dikenal sengan TPS3R," kata Prasetyo.

 

 

Dengan sistem pengelolaan sampah tersebut, Prasetyo mengatakan bahwa masyarakat telah melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara menyeluruh, sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang yang berakhir di TPA.

Menurut data Survei Kesadaran Manajemen Sampah Waste4Change 2019, saat ini baru 49 persen rumah tangga yang memilah sampah dan masih ada 50 persen rumah tangga yang tidak memilah sampah.

Bahkan, di antara 92,8 persen warga dari survei Waste4Change terhadap 429 responden di DKI Jakarta dan sekitarnya, menyatakan mereka mengharap adanya sistem manajemen sampah yang lebih baik di Indonesia.

Baca juga: Sampah Sungai Ciliwung akan Dijadikan Sumber Listrik, Bagaimana Bisa?

 

Waste4Change, penyedia layanan pengelolaan sampah ini telah berhasil mengelola lebih dari 5.405 ton sampah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Mohamad Bijaksana Junerosano, Managing Director Waste4Change berharap pencapaian ini dapat membantu Indonesia dalam mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien, sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA dan lingkungan.

"Kami percaya dukungan kolaborasi dari swasta, pemerintah dan masyarakat sebagai kunci utama dalam mewujudkan ekonomi sirkuler dan zero-waste di Indonesia," imbuh dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Oh Begitu
Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Fenomena
Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Fenomena
Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Kita
Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Fenomena
11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

Fenomena
Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Oh Begitu
Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Oh Begitu
Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Oh Begitu
Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Fenomena
Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Kita
Rahasia Alam Semesta: Berapa Berat Badan Manusia di Planet Lain?

Rahasia Alam Semesta: Berapa Berat Badan Manusia di Planet Lain?

Oh Begitu
Pahami Cara Mencegah Bau Mulut Saat Puasa dan Penyebabnya

Pahami Cara Mencegah Bau Mulut Saat Puasa dan Penyebabnya

Oh Begitu
Terkuak, Manusia Purba Bikin Lukisan di Gua Sambil Berhalusinasi

Terkuak, Manusia Purba Bikin Lukisan di Gua Sambil Berhalusinasi

Fenomena
Daftar Wilayah Waspada Gelombang Tinggi 6 Meter akibat Siklon Tropis Surigae

Daftar Wilayah Waspada Gelombang Tinggi 6 Meter akibat Siklon Tropis Surigae

Oh Begitu
komentar
Close Ads X