Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Temukan Kaitan Pewarna Rambut dengan Kanker Payudara, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 05/09/2020, 19:05 WIB
Dinda Zavira Oktavia ,
Shierine Wangsa Wibawa

Tim Redaksi

Sumber Gizmodo

KOMPAS.com - Sebuah studi baru yang melibatkan populasi besar menemukan kemungkinan adanya kaitan antara pewarna rambut dengan beberapa jenis kanker payudara, kanker rahim dan kanker kulit.

Dilansir dari Gizmodo, Jumat (4/9/2020); risiko kanker seringkali merupakan hal yang sangat sulit untuk dipelajari dan dipastikan. Ada sekitar 5.000 bahan kimia yang ditemukan dalam produk pewarna rambut dan beberapa di antaranya diketahui bersifat karsinogenik.

Namun, timbulnya kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetika seseorang, lingkungan, dan kekuatan paparannya. Oleh sebab itu, yang masih menjadi pertanyaan adalah seberapa besar risiko tambahan dari pewarna rambut jika memang ada.

Nah, studi yang dipublikasikan di BMJ minggu ini mencoba menyelidikinya dengan melihat data dari proyek penelitian lain bernama Nurses' Health Study.

Baca juga: Ahli Ingatkan Pasien Perlu Tahu Subtipe Kanker Sebelum Lakukan Terapi

Studi itu melacak kebiasaan kesehatan dan gaya hidup partisipan sejak 1976 dengan mengirimkan kuesioner kepada lebih dari 120.000 wanita berusia antara 30 sampai 55 tahun setiap dua atau empat tahun sekali.

Para peneliti dari studi di BMJ mengamati 117.200 wanita yang menjawab apakah mereka pernah menggunakan pewarna rambut permanen atau tidak, dan bebas dari kanker pada awal penelitian.

Rata-rata partisipan diikuti kondisinya selama 36 tahun, dengan sepertiga dari mereka melaporkan penggunaan pewarna rambut beberapa kali dalam hidup mereka. Selama durasi tersebut, ada lebih dari 47.000 kasus kanker yang dilaporkan oleh para partisipan, dan lebih dari 4.800 kematian.

Studi BMJ tidak menemukan hubungan yang signifikan antara kemungkinan sebagian besar kanker dengan penggunaan pewarna rambut, terlepas dari seberapa lama atau sering perempuan tersebut menggunakan pewarna rambut.

Baca juga: Studi Baru Sebut Racun Lebah Madu Mampu Bunuh Sel Kanker Payudara

Namun, bila dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan pewarna rambut, wanita yang pernah menggunakan pewarna rambut tampaknya memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara hormon negatif.

Untuk diketahui, kanker payudara hormon negatif adalah bentuk kanker payudara yang cenderung tumbuh lebih cepat, memengaruhi wanita yang lebih muda, dan tidak merespons pengobatan yang memblokir atau menurunkan hormon estrogen dan progesteron.

Lalu, para wanita ynag pernah menggunakan pewarna rambut juga ditemukan memiliki risiko terkait kanker ovarium dan karsinoma sel basal (kanker kulit paling umum) yang lebih tinggi.

Hasil studi baru ini sesuai dengan penelitian lain, seperti studi tahun 1994, yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pewarna rambut dan berbagai jenis kanker.

Namun, ia juga sejalan dengan penelitian-penelitian baru yang mengaitkan kanker payudara dengan penggunaan pewarna rambut.

Baca juga: Usia Berapa Perlu Periksa Payudara Sendiri untuk Deteksi Kanker?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menemukan bahwa paparan pewarna rambut yang terus-menerus, misalnya pada orang-orang yang bekerja di salon, berpotensi menyebabkan kanker pada manusia.

Namun, penggunaan pewarna rambut untuk keperluan pribadi pada saat ini dianggap sebagai "agen kelompok 3", yang berarti masih belum ada cukup bukti untuk mengklasifikasikan risiko kankernya.

Meskipun studi ini tidak menegaskan hubungan sebab-akibat yang jelas antara kanker dengan pewarna rambut, para ahli berkata bahwa temuan mereka memberikan arahan riset yang lebih jelas untuk difokuskan ke depannya.

Penelitian lanjutan harus melihat kelompok wanita yang lebih beragam dan di luar Amerika Serikat, serta mempertimbangkan jenis pewarna rambut yang digunakan. Pewarna rambut yang lebih gelap, misalnya, bisa menjadi perhatian khusus untuk dipelajari karena cenderung mengandung lebih banyak bahan kimia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber Gizmodo
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com