Bukan Asteroid Pemicu Kiamat

Kompas.com - 04/05/2020, 19:34 WIB
Sebagian wajah asteroid 1998 OR2 dalam citra teleskop radar Observatorium Arecibo, Puerto Rico (AS). Asteroid ini berdiameter 2.500 m dan berhiaskan cekungan kawah selebar ~900 meter di wajahnya. Kawah tersebut adalah produk benturan antar asteroid di masa silam. National Science Foundation/Arecibo, 2020Sebagian wajah asteroid 1998 OR2 dalam citra teleskop radar Observatorium Arecibo, Puerto Rico (AS). Asteroid ini berdiameter 2.500 m dan berhiaskan cekungan kawah selebar ~900 meter di wajahnya. Kawah tersebut adalah produk benturan antar asteroid di masa silam.

APAKAH ada asteroid besar yang siap menubruk Bumi pada Ramadhan 1441 H ini? Demikian pertanyaan bernada cemas terlontar dari beberapa sejawat.

Di tengah babak-belurnya dunia oleh hantaman pandemi Covid-19 dengan dampak yang tak terbayangkan sebelumnya, informasi semacam itu sungguh menimbulkan rasa cemas. Tak terbayangkan rasanya jika umat manusia saat ini harus berhadapan lagi dengan satu jenis bencana baru.

Apalagi di Indonesia, di mana sepenggal informasi berlatar sains seringkali ditulis ulang dan ditunggangi hoaks yang menjalar cepat laksana ilalang terbakar lewat aneka media sosial. Informasi tentang asteroid yang hanya melintas-dekat, disalin rupa menjadi siap menubruk Bumi dan dikait-kaitkan dengan konsepsi apokaliptik tentang ad-Dukhan.

Asteroid besar itu disebut-sebut bakal menimbulkan gempa bumi dahsyat serta kabut asap dan debu yang menyelimuti segenap paras Bumi, mencekik kehidupan hingga ke titik terdalam.

Bumi baik-baik saja, tukas saya.

Asteroid besar itu hanya akan melintas-dekat untuk kemudian pergi menjauh lagi. Tak ada bedanya dengan tingkah laku para asteroid dekat-Bumi lainnya yang pernah tercatat. Bumi tetap berada menyusuri lintasannya dan asteroid itu pun juga tetap berada dalam lintasannya sendiri.

Takdir kosmik menempatkan lintasan keduanya tidak saling berpotongan, sehingga peluang untuk terjadinya tumbukan antar benda langit tersebut adalah nol.

Dan demikianlah adanya. Pada Kamis 29 April 2020 pukul 17:56 WIB lalu, manakala sebagian Indonesia sedang berbuka puasa, asteroid 1998 OR2 yang berdimensi cukup besar (diameter 2.500 meter) memang melintas-dekat dengan Bumi kita.

Akan tetapi, titik terdekatnya ke Bumi masih sejauh 6,3 juta kilometer atau 16 kali lebih jauh ketimbang posisi Bulan terhadap Bumi kita.

Dengan sejarah pengamatan sepanjang 32 tahun lamanya, meskipun secara resmi asteroid ini baru diidentifikasi pada 24 Juli 1998, maka orbit asteroid itu telah diketahui pada tingkat ketelitian cukup tinggi. Sehingga perbandingan antara orbit hasil perhitungan matematis dengan pengamatan astronomis hanya berselisih maksimum 6 km saja.

Lewat orbit yang sudah diketahui dengan baik, melalui metode integrasi gravitasi maka masa depan asteroid jumbo ini dapat diprakirakan dengan ketelitian tinggi. Hasilnya, diketahui asteroid 1998 OR2 takkan berpotensi berbenturan dengan Bumi hingga beratus tahun ke depan.

Sepanjang Ramadhan 1441 H beberapa asteroid yang berdimensi besar memang siap menjalani perlintasan-dekat Bumi.

Selain asteroid 1998 OR2, terdapat pula asteroid 2009 XO (diameter 280 meter) pada 7 Mei 2020 pukul 19:18 WIB dengan jarak terdekat ke Bumi 3,4 juta kilometer (8,9 kali lebih jauh dari Bulan).

Lalu, ada asteroid 2008 TZ3 (diameter 300 meter) yang akan melintas dekat pada 10 Mei 2020 pukul 21:17 WIB dengan jarak terdekat ke Bumi yang sedikit lebih kecil, yakni 2,8 juta kilometer (7,3 kali lebih jauh dari Bulan).

Menjelang hari raya Idul Fitri pun, masih ada asteroid besar lainnya yang akan melintas-dekat. Ia adalah asteroid 1997 BQ (diameter 900 meter) yang akan melintas-dekat sejarak 6,2 juta kilometer (16,1 kali lebih jauh dari Bulan) pada 22 Mei 2020 pukul 04:45 WIB.

Di samping asteroid-asteroid jumbo tersebut terselip juga asteroid mini yang tak banyak menarik perhatian, meski ia melintas demikian dekat.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

Fenomena
AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

Oh Begitu
Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Fenomena
Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Fenomena
Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Oh Begitu
BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

Kita
Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Oh Begitu
Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Kita
Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Oh Begitu
Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Fenomena
Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Oh Begitu
Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Fenomena
Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Fenomena
komentar
Close Ads X