Apa Gunanya Membandingkan Tingkat Kematian Akibat Virus Corona?

Kompas.com - 05/04/2020, 13:05 WIB
Ilustrasi pencegahan dan penularan virus corona, pasien virus corona ShutterstockIlustrasi pencegahan dan penularan virus corona, pasien virus corona

KOMPAS.com - Setiap hari kita disuguhi statistik infeksi dan tingkat kematian pasien virus corona Covid-19 dari seluruh dunia.

Yang jadi pertanyaan, apakah semua angka dan data itu akurat serta dapat dipercaya?

Profesor Tobias Kurth pakar kesehatan publik dari rumah sakit Charité di Berlin dalam wawancara dengan DW mengatakan, statistik yang dilaporkan Jerman dijamin akurat.

“Pertanyaannya, apakah kita bisa membandingkan data ini dengan data dari negara-negara lainnya? Hal ini sangat sulit, karena setiap negara melaporkan data secara berbeda-beda,“ ujar profesor Kurth.

Baca juga: Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

“Mereka melakukan test secara berbeda. Atau mereka juga mengklasifikasi pasien yang meninggal akibat virus corona atau gejala yang berasosiasi dengan Covid-19 juga secara berbeda. Dalam hal ini bukan berarti angka statistik mereka yang dilaporkan Jerman tidak akurat. Tapi jika kita membandingkan datanya dengan yang dilaporkan negara lain, Italia misalnya, hal itu akan sangat sulit“, tambah pakar kesehatan publik Jerman itu.

Beda metode dan target tes hasilkan beda data

Sebagai contoh, profesor Kurth menunjuk pada populasi yang potensial menjalani test virus corona.

“Di Jerman populasi yang dites ada pada kisaran usia 45 tahun. Di Italia pada populasi berusia di atas 60 tahun. Hasilnya, di Jerman banyak warga berusia muda positif Covid-19. Sementara di Italia kelompok yang dites usianya lebih tua. Padahal kita juga tahu, faktor risiko meninggal akibat infeksi virus corona pada manula jauh lebih tinggi,“ tambah pakar kesehatan dari RS Charité di Berlin itu kepada DW.

Padahal jika kita membandingkan mayoritas pasien yang meninggal akibat Covid-19, kisaran umurnya di Jerman dan Italia relatif sama, yakni rata-rata usia 80 tahun.

Jadi tidak mengherankan, jika membandingkan angka absolut pasien virus corona yang meninggal, jumlahnya di Italia akan lebih besardibanding dengan di Jerman.

Profesor Tobias Kurth juga menyebutkan ada faktor lain yang mungkin tidak relevan saat ini, namun diduga berkontribusi pada tingkat kematian pasien Covid-19.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Fenomena
Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Oh Begitu
Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Fenomena
Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Oh Begitu
Vaksin Corona Rusia Siap Digunakan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Vaksin Corona Rusia Siap Digunakan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Fenomena
Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Oh Begitu
WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

Oh Begitu
Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Fenomena
Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Fenomena
Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Fenomena
Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Oh Begitu
Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Oh Begitu
Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Fenomena
komentar
Close Ads X