Udara Jakarta Membaik saat Pandemi Corona, Ahli Ungkap Sebabnya

Kompas.com - 26/03/2020, 18:14 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

KOMPAS.com – Kamis (26/3/2020) pagi, kualitas udara DKI Jakarta masuk dalam kategori sedang.

Berdasarkan situs Air Quality Index (AQI), pukul 08.00 WIB kualitas udara menyentuh angka 82. Pada sore hari yakni pukul 15.30 WIB, kualitas udara berada pada angka 62 dengan PM 2.5 sebesar 17,5 mg/m3.

Berdasarkan catatan Kompas.com, kualitas udara Jakarta biasanya masuk dalam kategori tidak sehat dengan indeks kualitas udara di atas 155.

Baca juga: Dampak Pandemi Virus Corona pada Lingkungan, Polusi Udara Global Turun

Pada 22 November 2019 misalnya, indeks kualitas udara Jakarta mencapai 157. Saat itu Jakarta berada di peringkat 11 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di antara kota-kota besar lainnya di dunia.

Jakarta bahkan pernah muncul dalam urutan pertama kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, tepatnya pada 29 Juli 2019. Indeks kualitas udara di Jakarta saat itu tercatat 183, kategori tidak sehat dengan parameter konsentrasi PM 2.5 sebesar 117,3 mg/m3.

Akibat kerja dari rumah?

Kualitas indeks udara terutama di DKI Jakarta berangsur membaik sejak diberlakukannya Work from Home (WFH) atau kerja dari rumah selama pandemi Covid-19. Apakah benar berpengaruh?

Bondan Andriyanu selaku Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia menyebutkan bahwa bisa jadi berkurangnya polusi udara adalah dampak kerja dari rumah.

“Katakanlah hari ini banyak yang sudah WFH, asumsinya sumber pencemar dari transportasi berkurang. Tapi datanya justru terjadi peningkatan PM 2.5,” tutur Bondan kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2020).

Baca juga: Rokok dan Polusi Udara, Mana yang Lebih Mematikan?

Artinya, lanjut ia, bisa jadi ada sumber lain yang tidak bergera masih berkontribusi pada pencemaran udara.

“Misal industri, PLTU Batubara, pembakaran sampah, dan lainnya,” lanjut ia.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X