Virus Corona Bencana Nasional, Sudah Saatnya Tes Massal di Indonesia

Kompas.com - 16/03/2020, 12:03 WIB
Ilustrasi virus corona atau covid-19 SHUTTERSTOCKIlustrasi virus corona atau covid-19

Oleh Dian Kusuma, SKM, MPH, ScD


Pemerintah Indonesia akhirnya mengumumkan Covid-19 sebagai bencana nasional pada Minggu 15 Maret. Presiden Joko “Jokowi” Widodo menugaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana memimpin percepatan penanganan penyakit menular yang kini telah terdeteksi di delapan provinsi.

Presiden Jokowi menyatakan Covid-19 sebagai bencana nasional lima hari sesudah menerima surat dari Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom-Ghebreyesus yang “mendesak” negera-negara dengan populasi besar untuk fokus pada pendeteksian kasus dan penambahan kapasitas laboratorium untuk memeriksa sampel pasien.

Tanpa pengetesan massal dan penambahan laboratorium yang memeriksa di Indonesia, sulit diketahui berapa sesungguhnya penderita Covid-19 di masyarakat.

Sedikitnya pemeriksaan, membuat banyak orang yang positif Covid-19 terlambat dideteksi. Mereka dapat menularkan virus corona tanpa sadar, memperbanyak jumlah orang yang terinfeksi. Selain itu, lambatnya deteksi bisa meningkatkan angka kematian karena penderita tidak atau terlambat mendapatkan pengobatan.

Di Indonesia, setelah sekitar dua minggu sejak diumumkan kasus paling awal dua orang positif Covid-19, jumlahnya kini melonjak menjadi 117 kasus. Data global menunjukkan angka kematian Covid-19 rerata sekitar 3,7% sampai 15 Maret. Saat ini dengan lima meninggal angka kematian di Indonesia 4%.

Saatnya tes massal dan perbanyak lab di Indonesia

Indonesia perlu pemeriksaan Covid-19 yang massif untuk mengetahui besaran bencana Covid.

Meski Covid-19 muncul sejak Desember di Cina, dan WHO menetapkan status darurat pada Januari sesudah ditemukan di sejumlah negara lain, Indonesia tidak melakukan upaya sistematis memeriksa masyarakat yang berisiko membawa virus dari wilayah epidemi.

Bahkan, hingga kini, belum ada upaya sistematis menggalakkan tes kepada masyarakat terutama pada orang-orang rentan (misalnya setelah bepergian ke Singapura, China, Italia, Korea dan Arab Saudi).

Padahal, risiko Indonesia atas Covid-19 cukup tinggi karena ada lebih dari 100 pintu masuk ke Indonesia dari luar negeri dan migrasi penduduk antarkota atau daerah cukup besar.

Pengalaman Korea Selatan, Italia, Amerika, Inggris, dan China menunjukkan, negara-negara tersebut menemukan banyak kasus-kasus positif Covid-19 setelah pemerintah di sana mengetes secara massal penduduk mereka dan melibatkan banyak laboratorium.

Data terbaru sampai 9 Maret 2020 menunjukkan sejumlah negara telah melakukan tes massal, seperti Australia, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, Korea Selatan dan beberapa negara lain.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Oh Begitu
Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X