5 Pertanyaan Paling Umum tentang Perubahan Iklim

Kompas.com - 11/03/2020, 19:30 WIB
Ilustrasi pengolahan produk berbahan bahan fosil picu perubahan iklim dan pengasaman laut. Ilustrasi pengolahan produk berbahan bahan fosil picu perubahan iklim dan pengasaman laut.

KOMPAS.com – Sebuah survei yang dilakukan oleh YouGov-Cambridge Globalism Project menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat pertama negara dengan masyarakat yang tidak percaya akan perubahan iklim.

Indonesia menduduki peringkat pertama dari 23 negara, dengan presentase sebesar 18 persen.

Baca juga: Banjir Jakarta Akibat Perubahan Iklim, Ini Upaya yang Bisa Dilakukan

Aktivitas yang dilakukan oleh manusia meningkatkan emisi (gas buang) karbondioksida, sehingga meningkatkan temperatur Bumi secara keseluruhan.

Cuaca ekstrem dan es kutub yang mencair hanya segelintir efek yang dihasilkan karenanya.

Apa itu perubahan iklim?

Melansir BBC, Rabu (11/13/2020), temperatur rata-rata Bumi adalah 15 derajat Celcius. Ada beberapa fluktuasi suhu, namun ilmuwan mengatakan bahwa temperatur saat ini meningkat jauh lebih pesat dibanding sebelumnya.

Hal ini berkaitan dengan efek rumah kaca, yang berasal dari energi dari Matahari yang terperangkap dalam atmosfer Bumi.

Baca juga: Selain Lelehkan Es, Efek Rumah Kaca Picu Erupsi Gunung Api

Sebagian energi dari Matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa, diserap oleh gas rumah kaca dan diarahkan ke berbagai area.

Hal ini menyebabkan pemanasan pada bagian bawah atmosfer dan permukaan Bumi itu sendiri. Tanpa efek ini, Bumi akan lebih dingin 30 derajat Celcius dan tidak sesuai untuk mahluk hidup.

Para ilmuwan percaya, manusia adalah oknum yang menambah gas rumah kaca ini. Emisi yang dikeluarkan oleh industri dan pertanian menambah tebal gas rumah kaca ini.

Sistem kerja gas rumah kaca- Sistem kerja gas rumah kaca

Dengan semakin tebalnya gas rumah kaca, energi Matahari yang diserap semakin banyak. Inilah yang membuat temperatur Bumi bertambah panas.

Inilah yang disebut dengan perubahan iklim, atau pemanasan global.

Dari mana datangnya emisi karbondioksida?

Dampak terbesar dari pemanasan global adalah penguapan air. Namun uap air tersebut tetap berada pada atmosfer selama beberapa hari.

Karbondioksida (CO2) bertahan jauh lebih lama. Butuh waktu ratusan tahun untuk mengembalikan kondisi atmosfer seperti sedia kala, sebelum Bumi dipadati industri.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber BBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gejala Presimptomatik Muncul Setelah Setelah Diagnosis Positif Corona

Gejala Presimptomatik Muncul Setelah Setelah Diagnosis Positif Corona

Fenomena
Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Oh Begitu
Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
komentar
Close Ads X