Syarifah Syaukat
Mahasiswa CEP Doktoral Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia

Mahasiswa CEP Doktoral Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, ini juga seorang peneliti senior sejak 2009 hingga saat ini pada Pusat Penelitian Geografi Terapan FMIPA UI.

Sejak 2020, Syarifah menempati posisi sebagai Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia.

Risiko Tenggelam dan Fakta Properti Jakarta

Kompas.com - 04/10/2021, 11:00 WIB
Proyek reklamasi Teluk Jakarta di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (9/4/2016). Beberapa ahli hidrologi mempertanyakan kelayakan reklamasi di pantai utara Jakarta.  Mereka melihat reklamasi lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan perlindungan alam.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANProyek reklamasi Teluk Jakarta di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (9/4/2016). Beberapa ahli hidrologi mempertanyakan kelayakan reklamasi di pantai utara Jakarta. Mereka melihat reklamasi lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan perlindungan alam.

BARU-baru ini kita mendengar kembali isu ancaman tenggelamnya Jakarta. Isu ini, sejatinya, telah lama terdeteksi oleh sejumlah lembaga dalam negeri, yang merekam data historis tinggi muka tanah.

Potensi risiko turunnya muka tanah atau land subsidence di Jakarta diperparah dengan potensi banjir atau genangan, baik banjir karena curah hujan maupun banjir gelombang air pasang (rob) di pantai utara Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Turunnya muka tanah merupakan gejala geologis yang umumnya terjadi di wilayah pesisir. Hal ini dipicu oleh kondisi geologi tanah endapan, tingginya ekstraksi air tanah yang umumnya menjadi penciri wilayah dengan penggunaan tanah yang intensif, dan beban bangunan.

Kumulasi dampak dari faktor-faktor tersebut, menstimulasi penurunan muka tanah.

Pada kondisi tertentu, penurunan muka tanah dapat menyebabkan amblesnya bangunan di atasnya, ataupun genangan yang lebih dalam saat musim penghujan atau ketika gelombang pasang.

Sebagai kota pantai, Jakarta merupakan dataran rendah dengan geologi berupa kipas aluvial.

Dalam bukunya, tentang Geologi Indonesia, Van Bemmelen menyebutkan, pesisir Utara Jawa, dari Barat sampai Cirebon merupakan endapan sungai dan membentuk alluvial fan dari erupsi Gunung Gede dan Pangrango.

Sementara, sumber akademik lain menyebutkan bahwa proses kompaksi masih berlanjut hingga saat ini di beberapa bagian.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh portal data yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Perindustrian dan Energi terkait peta sebaran penurunan muka tanah 2014-2017 mengungkapkan, penurunan muka tanah tertinggi terjadi di beberapa titik sebesar 0,24 meter pertahun.

Penurunan muka tanah di Provinsi DKI JakartaPemprov DKI Penurunan muka tanah di Provinsi DKI Jakarta

Secara area, wilayah dengan risiko penurunan muka tanah yang tinggi di antaranya adalah Penjaringan, Pademangan, dan Cempaka Putih.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.