Kompas.com - 02/06/2021, 18:10 WIB
Dalam foto yang dirilis oleh Istana Kepresidenan Indonesia ini, Panglima Tertinggi Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing (kanan bawah) dan para pemimpin ASEAN bertemu dalam pertemuan mereka di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Indonesia, Sabtu (24/4/2021). AP PHOTO / LAILY RACHEVDalam foto yang dirilis oleh Istana Kepresidenan Indonesia ini, Panglima Tertinggi Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing (kanan bawah) dan para pemimpin ASEAN bertemu dalam pertemuan mereka di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Indonesia, Sabtu (24/4/2021).

BANDAR SERI BEGAWAN, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Kedua Brunei, Erywan Yusof, bersama Sekjen ASEAN, Lim Jock Hoi, dikabarkan akan segera bertemu para pemimpin junta militer Myanmar.

Tapi, beberapa sumber diplomatik menyatakan pada Reuters, bahwa rencana lawatan masih bisa batal dan ditunda, tergantung hambatan berupa logistik dan diplomatik.

Sampai saat ini, juru bicara ASEAN, Kedutaan Brunei untuk ASEAN, dan junta militer Myanmar juga belum mengonfirmasi lawatan ini.

Baca juga: 9 Negara Asean Termasuk Indonesia Tolak Embargo Senjata untuk Myanmar

Kalau kunjungan ini terjadi, kemungkinan akan berlangsung selama lima minggu.

Sebelumnya, pertemuan asosiasi negara Asia Tenggara itu sempat digelar di Jakarta pada dua pekan lalu (24/4/2021). 

Pertemuan yang dihadiri para pemimpin negara ASEAN itu, termasuk pemimpin junta Myanmar, hasilkan lima poin konsensus yang bertujuan memulihkan kerusuhan dan kekerasan di Myanmar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Menlu Retno Minta PBB Dukung Langkah ASEAN Selesaikan Konflik di Myanmar

Salah satu poinnya adalah mengirim utusan khusus ASEAN ke Myanmar.

Tapi sampai saat ini, utusan khusus belum juga ditunjuk. Mandat serta masa jabatan utusan khusus pun belum diputuskan. Ini karena ada perbedaan pendapat antar negara anggota.

Baca juga: AS Akui Kepemimpinan Indonesia dalam Merespons Krisis di Myanmar

Sebuah kerangka dokumen yang dirilis Brunei pada bulan lalu, menampilkan usulan bahwa utusan khusus ASEAN untuk Myanmar akan aktif hingga akhir 2021.

Salah seorang sumber pada Reuters, menuturkan bahwa dokumen itu juga mengusulkan pembatasan kewenangan dan tugas utusan khusus, yang hanya dipakai untuk mediasi.

Beberapa negara ASEAN dikabarkan tak setuju dengan rancangan Brunei itu. Dinilai bisa merusak kedudukan dan pengaruh utusan.

Baca juga: Masih Dilanda Kudeta, Myanmar Tak Diundang ke Rapat Tahunan WHO

Sumber diplomatik itu, masih pada Reuters, mengatakan bahwa Indonesia dan Thailand sempat berselisih terkait detail pembentukan utusan khusus ASEAN tersebut.

Indonesia kabarnya lebih memilih menunjuk satu utusan untuk memimpin misi Myanmar. Namun Thailand, yang dikenal punya kedekatan dengan junta Myanmar, mendorong ASEAN membentuk lebih banyak perwakilan dalam tim utusan khusus itu.

Sementara itu, sebagian besar negara ASEAN lebih mendukung pembentukan tiga utusan, yakni perwakilan dari Indonesia, Thailand, dan Brunei.


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Presiden Tunisia Janji Dirinya Takkan Jadi Diktator setelah Tangkap Anggota Parlemen

Presiden Tunisia Janji Dirinya Takkan Jadi Diktator setelah Tangkap Anggota Parlemen

Global
Anime Jepang yang Paling Populer di Dunia, Apa Favoritmu?

Anime Jepang yang Paling Populer di Dunia, Apa Favoritmu?

Internasional
Peduli Migran WNI, Kota Taoyuan di Taiwan Adakan Program Khusus Pencegahan Covid-19

Peduli Migran WNI, Kota Taoyuan di Taiwan Adakan Program Khusus Pencegahan Covid-19

Global
Kebakaran Hutan Turki Hanguskan Tempat Wisata, 4.000 Turis Dievakuasi

Kebakaran Hutan Turki Hanguskan Tempat Wisata, 4.000 Turis Dievakuasi

Global
CDC AS: Varian Covid-19 Delta Sama Menularnya seperti Cacar Air

CDC AS: Varian Covid-19 Delta Sama Menularnya seperti Cacar Air

Global
POPULER GLOBAL: Biden Prediksi Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi | BLT Rp 1,4 Juta bagi Warga AS

POPULER GLOBAL: Biden Prediksi Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi | BLT Rp 1,4 Juta bagi Warga AS

Global
Apakah Kim Jong Un Kehilangan Berat Badan Lagi? Foto-foto Menunjukkan Demikian

Apakah Kim Jong Un Kehilangan Berat Badan Lagi? Foto-foto Menunjukkan Demikian

Global
Bangladesh Dilanda Lonjakan Kasus Demam Berdarah di Tengah Krisis Covid-19

Bangladesh Dilanda Lonjakan Kasus Demam Berdarah di Tengah Krisis Covid-19

Global
Kontroversi Penggunaan Robot Anjing oleh Polisi Amerika, Dinilai Tidak Manusiawi

Kontroversi Penggunaan Robot Anjing oleh Polisi Amerika, Dinilai Tidak Manusiawi

Global
Lari dari Taliban, Warga Afghanistan Ramai-ramai Bikin Paspor untuk Kabur ke Luar Negeri

Lari dari Taliban, Warga Afghanistan Ramai-ramai Bikin Paspor untuk Kabur ke Luar Negeri

Global
Cara Sukses China Tangani Varian Delta, Bisakah Indonesia Tiru?

Cara Sukses China Tangani Varian Delta, Bisakah Indonesia Tiru?

Global
Pemberontak Houthi Rebut 2 Distrik di Yaman

Pemberontak Houthi Rebut 2 Distrik di Yaman

Global
China Izinkan Uji Coba Kendaraan Autopilot di Jalan Tol Beijing

China Izinkan Uji Coba Kendaraan Autopilot di Jalan Tol Beijing

Global
Sambil Bersujud, Atlet Taekwondo Thailand Persembahkan Medali Emas Olimpiade ke Sang Ayah

Sambil Bersujud, Atlet Taekwondo Thailand Persembahkan Medali Emas Olimpiade ke Sang Ayah

Global
Lagu Kebangsaan China Dihina di Hong Kong, Polisi Segera Lakukan Penyelidikan

Lagu Kebangsaan China Dihina di Hong Kong, Polisi Segera Lakukan Penyelidikan

Global
komentar
Close Ads X