Kerja Berat Penggali Makam Covid-19 India: Shift 24 Jam dan Tak Bisa Puasa

Kompas.com - 02/05/2021, 22:58 WIB
Pemakaman seseorang yang meninggal akibat Covid-19 di pemakaman muslim di Mumbai, India, 28 April 2021. REUTERS/FRANCIS MASCARENHAS via VOA INDONESIAPemakaman seseorang yang meninggal akibat Covid-19 di pemakaman muslim di Mumbai, India, 28 April 2021.

MUMBAI, KOMPAS.com - Ramadhan kali ini merupakan masa yang melelahkan bagi sejumlah Muslim penggali kubur di Mumbai, India. Mereka bekerja nyaris tanpa henti, dari pagi hingga malam, memenuhi tingginya permintaan kuburan, menyusul melonjaknya kasus virus corona di negara itu. Karena kewalahan, mereka pun mengabaikan protokol kesehatan.

Di masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan boleh jadi merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan, setidaknya di banyak negara maju di dunia. Namun, tidak demikian halnya di India, khususnya di pekuburan Muslim di Mumbai.

Banyak penggali kubur di kota itu tidak lagi mengenakan alat pelindung diri (APD) saat menjalankan pekerjaan mereka. Menggali tanah tanpa APD mungkin masih bisa dipahami, tapi mengusung jenazah dan kemudian menguburkannya tanpa APD, sungguh di luar kebiasaan.

Baca juga: Belajar dari India, Indonesia Harus Waspada Euforia Vaksin Corona

Sayyed Munir Kamruddin adalah satu di antaranya. Pria berusia 52 tahun itu kini menolak menggunakan APD.

“Awalnya, sekitar dua atau tiga bulan krisis Covid-19 berlangsung, saya mengenakan alat pelindung diri lengkap, termasuk sarung tangan. Tapi kemudian saya memutuskan untuk tidak lagi mengenakannya. Tidak ada efeknya terhadap saya.”

Pria yang telah 25 tahun bekerja sebagai penggali kubur ini memang belum pernah menunjukkan gejala-gejala tertular virus corona, atau jatuh sakit berat akibat virus itu.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gayesh Ansari, memandang tubuh istrinya yang hamil delapan bulan, Gulshan Ansari, yang meninggal karena Covid-19 saat akan dimasukkan liang lahat di sebuah pemakaman di Mumbai, India 28 April 2021.REUTERS via VOA INDONESIA Gayesh Ansari, memandang tubuh istrinya yang hamil delapan bulan, Gulshan Ansari, yang meninggal karena Covid-19 saat akan dimasukkan liang lahat di sebuah pemakaman di Mumbai, India 28 April 2021.
Teman-teman Kamruddin, yang juga sebagai penggali kubur, mengikuti jejaknya. Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka seperti masa-masa dulu, sebelum pandemi merebak.

Kamruddin menjelaskan, alasan utamanya mengabaikan protokol kesehatan tidak hanya karena ia tidak takut akan virus corona, tapi juga karena tuntutan kerjanya yang luar biasa tinggi.

Banyak Muslim di India bersikeras bahwa jasad keluarga atau kerabat mereka yang meninggal akibat Covid-19 harus ditangani sesuai ajaran Islam dan dikuburkan. Mereka umumnya menolak mengkremasi jenazah, sebagaimana dilakukan banyak penganut ajaran Hindu. Sesuai ajaran Islam, mereka juga menuntut agar jenazah dikuburkan sesegera mungkin.

Karena melonjaknya jumlah kasus dan jumlah kematian yang mengiringinya, permintaan akan kuburan juga meningkat. Tak heran, banyak di antara para penggali kubur yang bekerja nonstop siang dan malam. Tak jarang shift kerja mereka hampir sehari penuh.

Baca juga: India Catat 3.689 Kematian dalam 24 Jam, Angka Tertinggi Sejak Pandemi Dimulai

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X