AS Kirimi Iran Detail Sanksi yang Berpotensi Dicabut untuk Capai Kesepakatan Nuklir

Kompas.com - 22/04/2021, 11:52 WIB
Foto yang dirilis pada 9 April 2019 oleh kantor kepresidenan Iran, menampilkan Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) saat mengunjungi fasilitas teknologi nuklir Iran di Teheran. AFP PHOTO / HANDOUTFoto yang dirilis pada 9 April 2019 oleh kantor kepresidenan Iran, menampilkan Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) saat mengunjungi fasilitas teknologi nuklir Iran di Teheran.

PARIS, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) mengirim detail sanksi yang berpotensi dicabut, kepada Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir.

Melansir AFP pada Kamis (22/4/2021), AS dan Iran tengah menjalin pembicaraan tentang cara memulihkan perjanjian nuklir 2015, yang didukung oleh Presiden Joe Biden, setelah ditinggalkan oleh Donald Trump pada 2018.

"Kali ini, kami telah membahas lebih datil," kata seorang pejabat senior AS tentang pembicaraan terakhir yang dipimpin oleh Uni Eropa.

Baca juga: Rudal Suriah Meledak Dekat Reaktor Nuklir Rahasia, Langsung Dibalas Israel

"Kami telah memberi Iran sejumlah contoh jenis sanksi yang kami yakini perlu dicabut untuk kembali ke kepatuhan (perjanjian nuklir 2015). Dan (mengirimkan) sanksi yang kami yakini tidak perlu dicabut," lanjutnya.

Pejabat itu juga menggambarkan "kasus sulit" yang ada, di mana Trump menerapkan kembali sanksi yang tidak terkait dengan aktivitas nuklir Iran. Namun, dilakukan "murni untuk tujuan mencegah" Biden memasukan kembali AS ke dalam kesepakatan nuklir internasional tersebut.

Iran telah mendesak AS untuk menghapuskan sanksi yang dijatuhkan di bawah pemerintahan Trump.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pejabat AS itu mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran belum merinci sanksi apa yang akan terlebih dahulu dihapuskan.

Baca juga: Pensiunan Jenderal Israel Akui Tak Mudah Lumpuhkan Program Nuklir Iran

Namun, ia mengatakan bahwa hal itu dapat didiskusikan.

"Kami terbuka untuk berbagai jenis pengurutan yang memenuhi kepentingan kami, yang pasti kedua belah pihak dalam kepatuhan penuh," ujarnya.

Dia menolak untuk mengkonfirmasi laporan dari Wall Street Journal bahwa pemerintah Biden telah menyatakan kesediaan untuk menghapus sanksi di sektor finansial dan minyak kepada Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani sebelumnya telah mengungkapkan optimismenya, bahwa negosiasi yang dijalin dengan AS kali ini membuat "kemajuan 60-70 persen".

Baca juga: China Kecam Rencana Jepang Buang 1,25 Juta Ton Limbah Nuklir ke Laut

Pembicaraan tidak langsung

Pembicaraan yang dijalin antara Iran dan AS berlangsung secara tidak langsung. Eropa yang berperan menjembatani.

Dengan Iran menolak untuk bertemu dengan Amerika Serikat, diplomat Eropa telah bolak-balik antara kedua belah pihak.

Para diplomat dari Inggris, China, Perancis, Jerman, Iran dan Rusia telah bertemu di sebuah hotel mewah di Wina, sementara utusan AS secara tidak langsung berpartisipasi dalam pembicaraan dari hotel terdekat.

"Kami telah membuat beberapa kemajuan, tetapi masih ada jalan untuk berpaling," kata seorang diplomat Eropa.

"Kami mendorong semua pihak untuk memanfaatkan peluang diplomatik yang kami sediakan. Kami mengutuk tindakan eskalasi oleh setiap aktor yang dapat membahayakan kemajuan," lanjutnya.

Baca juga: Jepang Akan Buang 1,25 Juta Ton Air Limbah Nuklir Fukushima ke Laut

Kekuatan Eropa pekan lalu menyatakan "keprihatinan besar" atas langkah Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium menjadi 60 persen, sebagai tanggapan atas apa yang dikatakan Teheran sebagai serangan Israel terhadap fasilitas nuklir utama Natanz.

Rencana itu, akan membuat nuklir Iran mendekati ambang kemurnian 90 persen, yang dapat digunakan untuk tujuan militer dan mempersingkat potensi waktu untuk membangun bom atom.

Namun, anggapan itu dibantah oleh republik Islam itu.

Israel tidak membenarkan atau membantah terlibat dalam serangan di Natanz.

Namun laporan radio publik di negara itu, mengutip sumber intelijen yang tidak disebutkan namanya, mengatakan serangan tersebut adalah operasi sabotase oleh agen mata-mata Mossad.

Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran sejak kedutaannya direbut oleh kaum ekstremis setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Syah pro-Barat.

Baca juga: Iran Klaim Fasilitas Nuklir Natanz Disabotase, Pelakunya Disebut Israel


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.