Jika Terpaksa Memutar Hindari Terusan Suez, Ini Risiko yang Mengintai Kapal

Kompas.com - 28/03/2021, 13:15 WIB
Citra satelit Badan Antariksa Eropa menunjukkan lalu lintas maritim rutin pada Minggu (21/3/2021) di Terusan Suez pada (kiri) dan lalu lintas maritim pada Kamis (25/3/2021) di kanal (kanan). APCitra satelit Badan Antariksa Eropa menunjukkan lalu lintas maritim rutin pada Minggu (21/3/2021) di Terusan Suez pada (kiri) dan lalu lintas maritim pada Kamis (25/3/2021) di kanal (kanan).

SUEZ, KOMPAS.com - Masih tersumbetnya Terusan Suez oleh kapal kontainer besar Ever Given, membuat kapal lain harus menimbang keputusan rute alternatif yang panjang, mahal, dan berbahaya untuk memutar di sekitar Afrika.

Insider melaporkan pada Sabtu (27/3/2021), rute laut dari Laut Merah ke Mediterania timur secara memutar adalah perjalanan sejauh 15.000 mil. Tidak hanya itu, perjalanan tersebut juga melalui perairan paling berbahaya di dunia untuk pembajakan.

Kapal-kapal yang menempuh perjalanan jauh akan terpaksa melewati Tanduk Afrika, Somalia, dan pada akhirnya melalui Afrika Barat dan Teluk Guinea. Daerah itu merupakan perairan dengan tingkat pembajakan tertinggi di dunia.

Menurut Biro Maritim Internasional (IMB), tercatat ada 135 penculikan maritim pada 2020. Sebanyak 130 pembajakan di dalamnya terjadi di Teluk Guinea.

Baca juga: Terusan Suez Masih Tertutup, Adakah Rute Alternatifnya?

"Kami melihat bahwa para perompak bertindak dengan impunitas yang lebih besar," kata Direktur IMB Michael Howlett kepada Deutsche Welles pada Februari.

Menurutnya, para pembajak menghabiskan lebih banyak waktu di kapal. Dalam satu kasus, mereka berada di kapal dan menguasainya selama lebih dari 24 jam. Sama sekali tidak tertandingi.

Kepada Financial Times, Seorang juru bicara Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang berbasis di Bahrain, mengatakan pihaknya telah dihubungi oleh banyak perusahaan pelayaran selama beberapa hari terakhir.

Mereka prihatin tentang risiko yang ditimbulkan oleh perompak ke kapal mereka, yang dipaksa untuk mengelilingi Afrika.

"Ada risiko di sana, dan mungkin itu alasan lain mengapa para pengangkut samudra akan berpikir dua kali sebelum mereka benar-benar mengelilingi Tanduk (Afrika)," Genevieve Giuliano, seorang profesor di Sekolah Kebijakan Publik Sol Price di Universitas California Selatan, mengatakan kepada The Washington Post.

Baca juga: Terusan Suez: Begini Skenario yang Mungkin Diambil untuk Bebaskan Ever Given

Kapal kontainer besar Ever Given telah terjebak di Terusan Suez sejak Selasa (23/3/2021).

Perusahaan pemiliknya di Jepang mengatakan pihaknya berharap untuk membebaskan kapal pada Sabtu (27/3/2021).

Namun beberapa ahli mengatakan bahwa membebaskan kapal bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Tidak jelas bagaimana Ever Given membelok ke luar jalur. Tetapi para pejabat mengaitkan kecelakaan itu dengan angin kencang dan badai pasir, yang tidak biasa pada saat ini di Mesir.

Saat dunia menunggu, jurnal berita perkapalan yang berbasis di London Lloyd's List memperkirakan bahwa penyumbatan memakan biaya 400 juta dollar AS (Rp 5,8 triliun) per jam untuk barang-barang yang tertunda.

Baca juga: Fakta Baru Terusan Suez Macet, Kapal Ever Given Bukan Terseret Angin


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X