Kalah Perang dari Azerbaijan, Armenia Alami Krisis

Kompas.com - 16/11/2020, 07:45 WIB
Asap mengepul dari rumah yang terbakar di Nagorno-Karabakh, dan kendaraan terjebak macet di jalan Kaljabar yang menuju Armenia pada Sabtu (14/11/2020). Wilayah itu akan diserahkan ke Azerbaijan sesuai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang selama 6 minggu. AP PHOTO/DMITRY LOVETSKYAsap mengepul dari rumah yang terbakar di Nagorno-Karabakh, dan kendaraan terjebak macet di jalan Kaljabar yang menuju Armenia pada Sabtu (14/11/2020). Wilayah itu akan diserahkan ke Azerbaijan sesuai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang selama 6 minggu.

YEREVAN, KOMPAS.com - Armenia masuk ke jurang krisis beberapa menit setelah Perdana Menteri Nikol Pashinyan menandatangani perjanjian untuk mengakhiri konflik di Nagorno-Karabakh.

Dukacita dan rasa frustrasi ditumpahkan rakyat Armenia ke jalanan ibu kota di Yerevan, menyusul pengumuman mengejutkan itu pada Selasa (10/11/2020).

Kesepakatan damai yang diteken itu meliputi konsesi teritorial yang menguntungkan Azerbaijan, dan kehadiran pasukan penjaga perdamaian dari Rusia setidaknya sampai lima tahun ke depan.

Baca juga: Putin Minta Azerbaijan Jaga Gereja dan Tempat Suci Kristen Peninggalan Armenia di Nagorno-Karabakh

Para demonstran menyerbu parlemen dan kantor-kantor pemerintahan, disusul aksi protes dari partai-partai oposisi sehari setelahnya. Mereka menuntut Pashinyan mundur dan diganti pemimpin baru.

Aksi yang dimulai di Teater Opera itu diwarnai cacian kepada PM Armenia. Massa berteriak, "Nikol, pengkhianat!", lalu menuju gedung parlemen untuk menyerukan pemakzulan Pashinyan.

Diberitakan Al Jazeera pada Kamis (12/11/2020), polisi antihuru-hara dikerahkan untuk mengendalikan massa, dan mereka melakukan beberapa penangkapan.

Baca juga: PM Armenia jadi Target Pembunuhan oleh Para Mantan Pejabat Dalam Negeri

Anna Mkrtchyan (26), seorang pengacara dari Yerevan, ditangkap karena melakukan protes di dekat Teater Opera. Dia dibawa ke kantor polisi, tetapi dibebaskan beberapa jam kemudian.

"Saya protes untuk melindungi tanah saya, tanah yang sekarang diberikan oleh Pashinyan ke Azerbaijan, tempat ribuan orang Armenia terbunuh."

"Kami berjuang untuk Tanah Air kami dan hak-hak orang yang tinggal di Artsakh," lanjutnya merujuk pada istilah Armenia untuk menyebut Nagorno-Karabakh.

Wilayah sengketa itu terletak di dalam Azerbaijan, tetapi dihuni etnis Armenia. Penguasaannya diperdebatkan sejak 1980-an. Banyak orang di Yerevan percaya bahwa Nagorno-Karabakh termasuk bagian negara mereka.

Baca juga: 2.317 Tentara Armenia Tewas dalam Perang Lawan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh

Halaman:

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebiri Ayahnya dan Lukai 3 Polisi, Pria Ini Akhirnya Ditangkap

Kebiri Ayahnya dan Lukai 3 Polisi, Pria Ini Akhirnya Ditangkap

Global
Bakamla Amankan Kapal Tanker Iran dan Panama, Ini Respons Teheran

Bakamla Amankan Kapal Tanker Iran dan Panama, Ini Respons Teheran

Global
19 Mayat Hangus Ditemukan di Dekat Perbatasan Meksiko-AS

19 Mayat Hangus Ditemukan di Dekat Perbatasan Meksiko-AS

Global
Dikabarkan Sudah Dimakamkan karena Covid-19, Seorang Nenek Pulang Lagi Sembilan Hari Kemudian

Dikabarkan Sudah Dimakamkan karena Covid-19, Seorang Nenek Pulang Lagi Sembilan Hari Kemudian

Global
Lagi, Tentara China dan India Terlibat Bentrokan di 'Perbatasan Baru'

Lagi, Tentara China dan India Terlibat Bentrokan di 'Perbatasan Baru'

Global
AS Kirim Kapal Induknya ke Laut China Selatan, Ini Tanggapan Beijing

AS Kirim Kapal Induknya ke Laut China Selatan, Ini Tanggapan Beijing

Global
Israel Ekstradisi Wanita 'Penjahat Seksual' terhadap Anak ke Australia

Israel Ekstradisi Wanita 'Penjahat Seksual' terhadap Anak ke Australia

Global
Remaja di Israel Sudah Bisa Divaksin Covid-19 asal Ada Izin Orangtua

Remaja di Israel Sudah Bisa Divaksin Covid-19 asal Ada Izin Orangtua

Global
Tak Pakai Masker dengan Benar, Peserta Ujian Masuk Universitas di Jepang Didiskualifikasi

Tak Pakai Masker dengan Benar, Peserta Ujian Masuk Universitas di Jepang Didiskualifikasi

Global
Seorang Anggota Parlemen Oklahoma Usulkan Musim Berburu 'Bigfoot'

Seorang Anggota Parlemen Oklahoma Usulkan Musim Berburu 'Bigfoot'

Global
Dijuluki Manusia Terkotor di Dunia, Amou Haji Tak Mandi Selama 67 Tahun

Dijuluki Manusia Terkotor di Dunia, Amou Haji Tak Mandi Selama 67 Tahun

Global
Siapakah Shurahbil bin Hasana, Sahabat Nabi yang Dirikan Masjid di Israel?

Siapakah Shurahbil bin Hasana, Sahabat Nabi yang Dirikan Masjid di Israel?

Global
Rebelo de Sousa Kembali Terpilih sebagai Presiden Portugal meski Kasus Covid-19 Melonjak

Rebelo de Sousa Kembali Terpilih sebagai Presiden Portugal meski Kasus Covid-19 Melonjak

Global
China Ganggu Taiwan Lagi, Kali Ini Beijing Kirim 12 Jet Tempur

China Ganggu Taiwan Lagi, Kali Ini Beijing Kirim 12 Jet Tempur

Global
Pemerintah Chile Minta Maaf Setelah Salah Umumkan Peringatan Tsunami

Pemerintah Chile Minta Maaf Setelah Salah Umumkan Peringatan Tsunami

Global
komentar
Close Ads X