PM Armenia jadi Target Pembunuhan oleh Para Mantan Pejabat Dalam Negeri

Kompas.com - 15/11/2020, 14:13 WIB
Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, bersama Kanselir Jerman Angela Merkel (tak masuk dalam gambar) dalam konferensi pers bersama di Berlin, pada 13 Februari 2020. REUTERS PHOTO/ANNEGRET HILSEPerdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, bersama Kanselir Jerman Angela Merkel (tak masuk dalam gambar) dalam konferensi pers bersama di Berlin, pada 13 Februari 2020.

YEREVAN, KOMPAS.com - Badan Keamanan Nasional (NSS) pada Sabtu (14/11/2020) mengatakan bahwa pihaknya tengah mencegah adanya upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan untuk merebut kekuasaannya, oleh para mantan pejabat dalam negeri.

Pashinyan berada di bawah tekanan dengan ribuan demonstran yang memprotes sejak Selasa (10/11/2020).

Mereka menuntut Pashinyan mengundurkan diri karena perjanjian gencatan senjata atas perang Armenia dan Azerbaijan, tapi hasil perjanjian lebih menguntungkan pihak lawan.

Baca juga: 2.317 Tentara Armenia Tewas dalam Perang Lawan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh

Kemajuan teritorial Azerbaijan di Nagorno-Karabakh setelah enam pekan pertempuran, menjadi terselamatkan.

Melansir Reuters pada Minggu (15/11/2020), NSS mengatakan mantan kepala NSS Artur Vanetsyan, mantan ketua fraksi parlemen Partai Republik Vahram Baghdasaryan dan sukarelawan perang Ashot Minasyan, menjadi tersangka dan saat ini ditahan.

Baca juga: Tak Terima Damai dengan Azerbaijan, Etnik Armenia di Nagorno-Karabakh Bakar Rumah Mereka

"Para tersangka berencana untuk secara ilegal merebut kekuasaan dengan membunuh perdana menteri dan sudah ada kandidat potensial yang sedang dibahas untuk menggantikannya," kata NSS dalam sebuah pernyataan.

Pashinyan mengatakan awal pekan ini bahwa dia tidak punya pilihan selain menandatangani perjanjian untuk mencegah kerugian teritorial lebih lanjut.

Baca juga: Perancis, AS, dan Turki Bersama Rusia Akan Kawal Implementasi Perjanjian Gencatan Senjata Armenia-Azerbaijan

Dia mengatakan dirinya mengambil tanggung jawab pribadi atas kemunduran hasil perang, tetapi menolak seruan untuk mundur.

Gencatan senjata menghentikan aksi militer di dan sekitar Nagorno-Karabakh, daerah kantong yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi dihuni oleh etnis Armenia.

Baca juga: Jaga Nagorno-Karabakh, 400 Tentara Penjaga Perdamaian Rusia Tiba di Armenia

Berdasarkan perjanjian tersebut, 2.000 pasukan penjaga perdamaian Rusia dikerahkan ke wilayah tersebut untuk mengamankan tercapainya kesepakatan gencatan senajata di lapangan.

Sejak awal 1990-an, etnis Armenia telah memegang kendali militer atas seluruh Nagorno-Karabakh dan sebagian besar wilayah Azeri di sekitarnya.

Mereka sekarang telah kehilangan sebagian besar daerah kantong itu sendiri serta wilayah sekitarnya.

Baca juga: Pemerintahnya Gencatan Senjata dengan Azerbaijan, Rakyat Armenia Marah


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X