Presiden Belarusia: Insiden Alexei Navalny Keracunan telah "Dipalsukan"

Kompas.com - 04/09/2020, 20:32 WIB
FILE - In this Saturday, Feb. 29, 2020 file photo, Russian opposition activist Alexei Navalny takes part in a march in memory of opposition leader Boris Nemtsov in Moscow, Russia. Russian opposition leader Alexei Navalny was the victim of an attack and poisoned with the Soviet-era nerve agent Novichok, the German government said Wednesday, Sept. 2, citing new test results. Navalny, a politician and corruption investigator who is one of Russian President Vladimir Putins fiercest critics, fell ill on a flight back to Moscow from Siberia on Aug 20 and was taken to a hospital in the Siberian city of Omsk after the plane made an emergency landing. (AP Photo/Pavel Golovkin, File) Pavel GolovkinFILE - In this Saturday, Feb. 29, 2020 file photo, Russian opposition activist Alexei Navalny takes part in a march in memory of opposition leader Boris Nemtsov in Moscow, Russia. Russian opposition leader Alexei Navalny was the victim of an attack and poisoned with the Soviet-era nerve agent Novichok, the German government said Wednesday, Sept. 2, citing new test results. Navalny, a politician and corruption investigator who is one of Russian President Vladimir Putins fiercest critics, fell ill on a flight back to Moscow from Siberia on Aug 20 and was taken to a hospital in the Siberian city of Omsk after the plane made an emergency landing. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)

BELARUS, KOMPAS.com - Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengklaim pada Kamis (3/9/2020), bahwa pihaknya telah menyadap panggilan Jerman yang menunjukkan kasus keracunan Alexei Navalny, musuh Kremlin adalah kepalsuan.

Melansir AFP pada Kamis (3/9/2020), orang kuat Belarusia itu menyampaikan kecurigaannya tentang kabar berita Navalny keracunan kepada Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin, saat sekutunya itu sedang berkunjung di ibu kota Belarusia, Minsk.

Lukashenko mengatakan kepada Mishustin bahwa adanya kontak antara Berlin dan Warsawa menjunjukkan, kabar keracunannya kritikus Kremlin, Alexei Navalny telah "dipalsukan".

Baca juga: Tanggapi Kasus Navalny, OPCW Nyatakan Siap Melibatkan Diri

"Tidak ada yang meracuni Navalny," kata Lukashenko kepada Mishustin dengan poker faced selama pertemuan mereka di televisi.

"Mereka melakukannya, dalam salah satu percakapannya dikatakan, untuk mencegah (Presiden Rusia Vladimir) Putin terlibat dalam urusan Belarusia," ujar presiden Belarusia sejak 1994 ini.

Lukashenko tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi mengatakan dia akan menyerahkan transkrip ke layanan keamanan Rusia.

Baca juga: Selain Alexei Navalny, Berikut Kasus Lain yang Melibatkan Racun Saraf Novichok

Pemimpin lama Belarusia berada di bawah tekanan besar dari pengunjuk rasa oposisi yang menuntut pengunduran diri Lukashenko, setelah pemilihan presiden yang disengketakan pada 9 Agustus lalu.

Puluhan ribu orang telah turun ke jalan selama berminggu-minggu dalam protes yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pemerintahan 26 tahun ini.

Klaim tentang Navalny oleh Lukashenko dapat dipahami sebagai upaya untuk menjilat Moskwa, yang telah menyuarakan dukungan untuk Lukashenko selama protes di dalam negeri Belarusia.

Baca juga: Kremlin Bantah Klaim bahwa Navalny Diracun dengan Novichok

Ajudan utama Navalny, Leonid Volkov menolak klaim itu sebagai hal yang konyol, dan menuduh perdana menteri Rusia telah berperan sebagai kaki tangan "percobaan pembunuhan" dengan bermain bersama di "sirkus ini".

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Global
Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Global
Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Global
Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Global
Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Global
Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Global
Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Global
Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Global
Nge-'Like' Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Nge-"Like" Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Global
Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Global
PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

Global
Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
komentar
Close Ads X