Kremlin Bantah Klaim bahwa Navalny Diracun dengan Novichok

Kompas.com - 04/09/2020, 08:01 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny saat berorasi menuntut pembebasan demonstran yang dipenjara, karena menuntut keadilan pemilu. Foto diambil pada 29 September 2019 di Moskwa, Rusia. REUTERS/SHAMIL ZHUMATOVPemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny saat berorasi menuntut pembebasan demonstran yang dipenjara, karena menuntut keadilan pemilu. Foto diambil pada 29 September 2019 di Moskwa, Rusia.

MOSKWA, KOMPAS.com - Kremlin pada Kamis (3/9/2020) membantah klaim bahwa Moskwa telah meracuni pemimpin oposisi Alexei Navalny, seiring meningkatnya seruan untuk tindakan internasional setelah Jerman mengatakan bahwa Navalny telah diracuni dengan Novichok.

Novichok yang dalam bahasa Rusia berarti "pendatang baru" dikembangkan di era Uni Soviet, di sebuah fasilitas berjarak 80 kilometer dari ibu kota Moskwa.

Dikutip Daily Mail, Kamis (3/9/2020), racun novichok lebih kuat dari senjata kimia lain bahkan bisa menembus masker gas dan pakaian pelindung.

Para pemimpin Barat menunggu jawaban dari Moskwa setelah Berlin pada Rabu kemarin mengatakan bahwa ada "bukti kuat" Navalny diracun menggunakan novichok.

Navalny, salah satu pengkritik paling keras Presiden Rusia, Vladimir Putin, jatuh sakit dalam penerbangan bulan lalu dan dirawat di rumah sakit Siberia sebelum dievakuasi ke Berlin.

Jerman mengklaim bahwa Navalny diracun menggunakan Novichok, zat yang sama yang digunakan terhadap eks agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, di kota Salisbury, Inggris 2 tahun lalu.

Baca juga: Mengenal Novichok, Racun Saraf Era Uni Soviet yang Diduga Dipakai Meracuni Alexei Navalny

Hal itu memicu kecaman luas dan tuntutan untuk dilakukannya penyelidikan.

Sementara itu, melansir AFP, pihak Rusia menyangkal ada bukti bahwa Navalny diracun dengan novichok. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov pada Kamis kemarin mengatakan bahwa Berlin tidak menyediakan bukti apapun.

"Tidak ada alasan apapun untuk menuduh negara Rusia," ujar Peskov, menolak diskusi soal sanksi ekonomi dan mendesak Barat untuk tidak terburu-buru dalam menghakimi.

Rusia telah menderita akibat berbagai sanksi dari Barat yang dijatuhkan atas pencaplokan Krimea pada 2014 serta dampak pandemi virus corona, juga penurunan harga minyak.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Global
Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Global
Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Global
Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Global
Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Global
Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Global
Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Global
Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Global
Nge-'Like' Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Nge-"Like" Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Global
Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Global
PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

Global
Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
komentar
Close Ads X