Selain Alexei Navalny, Berikut Kasus Lain yang Melibatkan Racun Saraf Novichok

Kompas.com - 04/09/2020, 08:47 WIB
FILE - In this Saturday, Feb. 29, 2020 file photo, Russian opposition activist Alexei Navalny takes part in a march in memory of opposition leader Boris Nemtsov in Moscow, Russia. Russian opposition leader Alexei Navalny was the victim of an attack and poisoned with the Soviet-era nerve agent Novichok, the German government said Wednesday, Sept. 2, citing new test results. Navalny, a politician and corruption investigator who is one of Russian President Vladimir Putins fiercest critics, fell ill on a flight back to Moscow from Siberia on Aug 20 and was taken to a hospital in the Siberian city of Omsk after the plane made an emergency landing. (AP Photo/Pavel Golovkin, File) Pavel GolovkinFILE - In this Saturday, Feb. 29, 2020 file photo, Russian opposition activist Alexei Navalny takes part in a march in memory of opposition leader Boris Nemtsov in Moscow, Russia. Russian opposition leader Alexei Navalny was the victim of an attack and poisoned with the Soviet-era nerve agent Novichok, the German government said Wednesday, Sept. 2, citing new test results. Navalny, a politician and corruption investigator who is one of Russian President Vladimir Putins fiercest critics, fell ill on a flight back to Moscow from Siberia on Aug 20 and was taken to a hospital in the Siberian city of Omsk after the plane made an emergency landing. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)

LONDON, KOMPAS.com - Petugas polisi yang pernah diracuni dengan racun saraf Novichok di Inggris pada Maret 2018 telah mengirim komentar tentang kasus kritikus Kremlin, Alexey Navalny.

Melansir CNN pada Kamis (3/9/2020), Detektif Sersan Nick Bailey sempat dirawat di rumah sakit setelah mengalami kontak dengan racun saraf Novichok, yang juga menyerang mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di Salisbury, di selatan Inggris.

Pada Kamis, Bailey menanggapi tweet dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang mengutuk pemerintah Rusia dan berjanji untuk "bekerja dengan mitra internasional untuk memastikan keadilan dilakukan."

Baca juga: Kremlin Bantah Klaim Bahwa Navalny Diracun dengan Novichok

Bailey berkata, "Saya memiliki banyak hal yang ingin saya katakan tentang tweet ini (Boris Johnson). Tapi, saya tidak bisa, dan saya tidak mau."

Istri Bailey pun menanggapi tweet Johnson. "Keadilan akan menyenangkan. Tindakan dapat lebih berarti daripada kata-kata," tweet Sarah Bailey.

"Sudah hampir 2 1/2 tahun setelah kejadian di Salisbury dan tidak ada keadilan untuk Dawn dan keluarganya dan tidak ada keadilan untuk Skripals, Charlie atau kami. Dan sekarang itu terjadi lagi," katanya.

Baca juga: Mengenal Novichok, Racun Saraf Era Uni Soviet yang Diduga Dipakai Meracuni Alexei Navalny

Ia melanjutnya, "Tampaknya tidak ada konsekuensi bagi para pelakunya. Pemerintah berhak mengutuk tindakan ini, tetapi dalam 2 1/2 tahun apakah akan dilupakan? Begitulah rasanya bagi kami. #RIPDawn."

Dawn Sturgess adalah seorang wanita Inggris berusia 44 tahun yang meninggal setelah mengusap apa yang dia yakini sebagai parfum dari botol kecil.

Faktanya, botol itu berisi racun saraf yang sebelumnya membuat Skripal dan putrinya sakit.

Pasangannya, Charlie Rowley, juga dirawat di rumah sakit, tetapi kemudian dipulangkan. Skripal juga selamat dari serangan itu.

Baca juga: Pemimpin Oposisi Rusia Alexei Navalny Diduga Diracun dengan Racun Saraf Novichok

Halaman:

Sumber CNN
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Global
Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Global
Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Global
Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Global
Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Global
Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Global
Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Global
Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Global
Nge-'Like' Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Nge-"Like" Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Global
Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Global
PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

Global
Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
komentar
Close Ads X