Pakar Virologi Ini Tuding China Sengaja Menutupi Wabah Virus Corona

Kompas.com - 13/07/2020, 11:20 WIB
Dr Yan Limeng, seorang pakar virologi dan imunologi asal Universitas Hong Kong. Dia mengaku kabur ke AS setelah menuduh China sengaja menutupi wabah virus corona. Fox News via Daily MailDr Yan Limeng, seorang pakar virologi dan imunologi asal Universitas Hong Kong. Dia mengaku kabur ke AS setelah menuduh China sengaja menutupi wabah virus corona.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Seorang pakar virologi kenamaan menyatakan, dia menuding pemerintah China sengaja menutupi wabah virus corona.

Dr Yan Limeng, virolog sekaligus pakar imunologi di Universitas Hong Kong, mengklaim Beijing tahu mengenai virus jenis baru ini.

Dalam wawancara dengan Fox News, Dr Yan dia mengutarakan supervisornya, yang terdiri dari sejumlah pakar terkemuka, mengabaikan penelitiannya.

Baca juga: China Sebut Dokter Li Wenliang, Whistleblower Virus Corona, sebagai Martir

Padahal berdasarkan klaim Yan Limeng, dia memulai penelitian begitu virus corona menyebar, sebelum kemudian menjadi pandemi di seluruh dunia.

Dia meyakini bahwa penelitiannya mengenai Covid-19 bisa menyelamatkan banyak nyawa, seperti diberitakan Daily Mail Sabtu (11/7/2020).

Karena itu, dia sampai membuat keputusan penting dengan kabur ke AS untuk membagi kisahnya, di mana dia sadar tidak akan bisa kembali lagi ke Hong Kong.

Sebagai laboratorium rujukan Badan Kesehatan Dunia ( WHO) di bidang virus influenza dan virus, dia mengaku harus memberi tahu dunia mengenai penelitiannya.

Dr Yan memulai klaimnya dengan menuturkan, dia merupakan satu dari segelintir pakar yang mempelajari virus dengan nama resmi SRS-Cov-2 itu.

Dia menerangkan supervisornya, Dr Le Poon, memintanya untuk mengawasi sebuah klaster aneh di mana kasusnya mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) di China.

"Pemerintah China menolak menerima pakar dari luar negaranya, termasuk Hong Kong. Jadi saya meminta saya mencari informasi," tuturnya.

Baca juga: Cerita Dokter Ai Fen di Wuhan yang Dibungkam karena Bagikan Informasi soal Virus Corona

Teman yang dia hubungi bekerja di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), yang pertama kali tahu soal virus yang menjalar di Wuhan.

Pada 31 Desember 2019, teman Yan memberitahunya mengenai kemungkinan transmisi antar-manusia, jauh sebelum WHO dan Beijing mengakuinya.

Yan segera memberitahukannya kepada si supervisor. Tetapi Yan mengingat, dia "hanya menggangguk", dan memintanya untuk terus bekerja.

Pada 9 Januari, WHO merilis pernyataan yang mengatakan berdasarkan otoritas Negeri "Panda", virus ini menyebabkan gejala sangat parah di sejumlah pasien.

Namun, badan kesehatan di bawah PBB itu menyatakan virusnya belum menular antar-manusia. "Sedikit sekali informasi yang diterima untuk menentukan risiko klaster," jelas WHO.

Mendengar pernyataan itu, Yan mengungkapkan temannya yang biasanya terbuka soal penyakit itu mendadak diam, sementara lainnya memperingatkannya agar tak bertanya secara detil.

Baca juga: Dokter Ai Fen, Pengungkap Pertama Virus Corona, Dikabarkan Menghilang

Meski sumbernya menerangkan transmisi antar-manusia terus meningkat, pengawas Yan hanya memintanya untuk "diam dan berhati-hati".

"Dia memperingatkan saya sebelumnya 'jangan injak garis merah. Kita bisa terlibat masalah dan hilang nantinya'," jelas Yan mengingat ucapan supervisornya.

Si pakar virologi kemudian mengklaim Dr Malik Peiris, salah satu direktur laboratorium, tahu soal penyebaran wabah ini tapi juga tak bertindak.

Yan berujar, dia sangat frustrasi dengan kondisi ini. Tetapi dia hanya bisa pasrah mengingat relasi antara WHO dengan pemerintah China.

"Jadi pada dasarnya, saya menerima. Tetapi saya tidak ingin informasi yang menyesatkan ini bakal tersebar ke seluruh dunia," kata dia.

Baca juga: Polisi Minta Maaf atas Hukuman ke Dr Li Wenliang, Warganet: Pergilah Minta Maaf ke Kuburannya

Karena itu, dia kemudian memutuskan pergi dari Hong Kong. "Sebab saya tahu bagaimana cara mereka memperlakukan whistleblower," jelasnya.

Dia merujuk kepada mendiang Li Wenliang, dokter yang sempat memperingatkan mengenai Covid-19 sebelum ditangkap polisi karena dianggap meresahkan masyarakat.

Dampaknya, Universitas Hong Kong kemudian menghapus namanya dari situs, dan menyatakan Yan Limeng "tidak lagi berstatus pegawai mereka".

Adapun WHO menyangkal mereka bekerja dengan Yan, Poon, dan Peiris. WHO memang menyebut Peiris merupakan seorang pakar, tapi membantah dia adalah staf mereka.

Sementara Kedutaan Besar China di AS menekankan mereka tidak tahu mengenai Yan, dan bersikeras sudah menangani virus corona dengan baik.

Baca juga: Pemerintah China Putuskan Hukuman Polisi pada Dr Li Wenliang Tidak Layak

Baca tentang

Sumber Daily Mail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bocah 'Pemulung' 5 Hari Tertimbun Longsoran Sampah Setinggi 30 Meter di India

Bocah "Pemulung" 5 Hari Tertimbun Longsoran Sampah Setinggi 30 Meter di India

Global
Pilpres AS 2020: Siapa Capres Idaman China, Iran, dan Rusia?

Pilpres AS 2020: Siapa Capres Idaman China, Iran, dan Rusia?

Global
Kisah Pulau Paling Terpencil di Dunia, Tak Terjamah Virus Corona dan Bisa Dengar Suara Rumput

Kisah Pulau Paling Terpencil di Dunia, Tak Terjamah Virus Corona dan Bisa Dengar Suara Rumput

Global
Seorang Anak 11 Tahun Bunuh Diri Diduga karena Game Online 'Tantangan Horor'

Seorang Anak 11 Tahun Bunuh Diri Diduga karena Game Online "Tantangan Horor"

Global
Kisah Misteri: Peter Stumpp, Manusia Serigala dari Bedburg

Kisah Misteri: Peter Stumpp, Manusia Serigala dari Bedburg

Global
Akan Pulang ke Rusia, Alexei Navalny Ancam Putin

Akan Pulang ke Rusia, Alexei Navalny Ancam Putin

Global
Di Luar Dugaan, Angka Kematian Akibat Covid-19 di Benua Afrika Lebih Rendah dari Lainnya

Di Luar Dugaan, Angka Kematian Akibat Covid-19 di Benua Afrika Lebih Rendah dari Lainnya

Global
Format Debat Capres AS Akan Diganti, Ini Tanggapan Timses Trump dan Biden

Format Debat Capres AS Akan Diganti, Ini Tanggapan Timses Trump dan Biden

Global
Debat Pertama Pilpres AS Kacau, Formatnya Akan Diganti

Debat Pertama Pilpres AS Kacau, Formatnya Akan Diganti

Global
Biden Sebut 'Insya Allah' Saat Tanggapi Masalah Pajak Trump dalam Debat Capres AS Pertama

Biden Sebut "Insya Allah" Saat Tanggapi Masalah Pajak Trump dalam Debat Capres AS Pertama

Global
Keracunan Novichok, Alexei Navalny Tuduh Putin Dalangnya

Keracunan Novichok, Alexei Navalny Tuduh Putin Dalangnya

Global
Inggris Akan Langgar Ketentuan Brexit, Uni Eropa Tempuh Jalur Hukum

Inggris Akan Langgar Ketentuan Brexit, Uni Eropa Tempuh Jalur Hukum

Global
Seorang Wanita Muslim Hamil Diinjak dan Ditinju di Kafe oleh Seorang Pria Islamofobia

Seorang Wanita Muslim Hamil Diinjak dan Ditinju di Kafe oleh Seorang Pria Islamofobia

Global
Pengakuan 'Twitter Killer', Bunuh 9 Orang via Media Sosial dan Mutilasi Korbannya

Pengakuan "Twitter Killer", Bunuh 9 Orang via Media Sosial dan Mutilasi Korbannya

Global
Dubes RI Hajriyanto: Krisis Mengubah Budaya Politik di Lebanon

Dubes RI Hajriyanto: Krisis Mengubah Budaya Politik di Lebanon

Global
komentar
Close Ads X