Warganya Divonis Mati di China, Ini Respons PM Australia

Kompas.com - 15/06/2020, 18:01 WIB
Seorang polisi paramiliter China mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus corona ketika berjaga di luar Kedutaan Besar Australia di Beijing, Sabtu, 6 Juni 2020. AP/Mark SchiefelbeinSeorang polisi paramiliter China mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus corona ketika berjaga di luar Kedutaan Besar Australia di Beijing, Sabtu, 6 Juni 2020.

CANBERRA, KOMPAS.com - Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menyatakan keprihatinannya pada Senin (15/6/2020) setelah warga negaranya divonis hukuman mati. Tindakan yang mengobar ketegangan antara Beijing dan Canberra.

Pengadilan China pada Sabtu (13/6/2020) mengungkapkan bahwa Karm Gilespie seorang aktor yang berbasis di Sydney telah dihukum mati atas tuduhan penyelundupan narkoba setelah ditahan diam-diam di penjara selama tujuh tahun.

Vonis itu meningkatkan kekhawatiran akan menambah masalah dalam hubungan diplomatik dan perdagangan antara Australia dan China, mitra dagang terbesarnya.

Baca juga: Di Tengah Ketegangan, China Hukum Mati Pengedar Narkoba asal Australia

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan pihak berwenang Australia mengetahui penangkapan itu dan telah menghubungi rekan-rekan mereka dari China dalam beberapa kesempatan terkait kasus tersebut.

"Saya dan pemerintah sangat sedih dan khawatir bahwa seorang warga negara Australia, Karm Gilespie telah dijatuhi hukuman mati di China," katanya.

Media pemerintah China mengatakan Gilespie, yang berusia sekitar lima puluhan, ditangkap pada malam Tahun Baru 2013 di Bandara Baiyun Guangzhou, barat laut Hong Kong, dengan lebih dari 7,5 kilogram metamfetamin dalam kopernya yang diperiksa.

Baca juga: Australia Tidak Aman untuk Mahasiswa China dan Asia, Benarkah?

Penangkapannya tidak diumumkan kepada publik dan teman-temannya mengatakan kepada media Australia bahwa mereka bingung oleh kepergiannya yang tiba-tiba.

Keluarga Gilespie mengeluarkan pernyataan pada Senin yang meminta teman-teman Gilespie untuk menahan diri dari berspekulasi tentang keadaan Gilespie saat ini, yang tidak mereka percaya (dapat) membantu kasusnya.

Keluarga Gilespie dalam pernyataan yang dikeluarkan melalui Kementerian Luar Negeri mengatakan, "Keluarga kami sangat sedih dengan situasi ini. Kami tidak akan membuat komentar publik dan meminta media menghormati privasi kami pada saat yang sulit ini."

Baca juga: Diancam China Pakai Ekonomi, Ini Jawaban PM Australia

Vonis mati itu dapat merusak hubungan yang semakin menegang antara Australia dan China. Terutama setelah Australia menyerukan penyelidikan terhadap asal-usul virus corona.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Deretan Kasus Serangan Terorisme yang Membunuh Sejumlah Warga di Perancis

Deretan Kasus Serangan Terorisme yang Membunuh Sejumlah Warga di Perancis

Global
Penjaga Konsulat Perancis di Jeddah Ditikam Seorang Warga Arab Saudi

Penjaga Konsulat Perancis di Jeddah Ditikam Seorang Warga Arab Saudi

Global
3 Korban Tewas dalam Penyerangan Pisau di Perancis, Salah Satunya Dipenggal

3 Korban Tewas dalam Penyerangan Pisau di Perancis, Salah Satunya Dipenggal

Global
Demi Belikan Anaknya Perman dan Baju, Ibu Ini Jual Bayi Baru Lahir Rp 4,7 Juta

Demi Belikan Anaknya Perman dan Baju, Ibu Ini Jual Bayi Baru Lahir Rp 4,7 Juta

Global
Penusukan di Gereja Nice Perancis, Pelaku Ditahan, Presiden Rapat Darurat

Penusukan di Gereja Nice Perancis, Pelaku Ditahan, Presiden Rapat Darurat

Global
Al-Qaeda Masih 'Terikat Kuat' dengan Taliban, Akankah Perdamaian di Afghanistan Tercapai?

Al-Qaeda Masih "Terikat Kuat" dengan Taliban, Akankah Perdamaian di Afghanistan Tercapai?

Global
Terjadi Penusukan di Gereja Perancis, 2 Tewas dan Beberapa Luka-luka

Terjadi Penusukan di Gereja Perancis, 2 Tewas dan Beberapa Luka-luka

Global
Paus Fransiskus Sebut Covid-19 sebagai 'Perempuan yang Harus Dipatuhi'

Paus Fransiskus Sebut Covid-19 sebagai "Perempuan yang Harus Dipatuhi"

Global
Perang Yaman Memanas, Ibu Kota Arab Saudi Bisa Jadi Target Rudal

Perang Yaman Memanas, Ibu Kota Arab Saudi Bisa Jadi Target Rudal

Global
Dipenjara 17 Tahun, Eks Presiden Korsel Akan Habiskan Sisa Hidup di Balik Jeruji Besi

Dipenjara 17 Tahun, Eks Presiden Korsel Akan Habiskan Sisa Hidup di Balik Jeruji Besi

Global
Demi Mendapat Herd Immunity, Ilmuwan Ini 2 Kali Terpapar Covid-19

Demi Mendapat Herd Immunity, Ilmuwan Ini 2 Kali Terpapar Covid-19

Global
Siapa Sosok Pemimpin Sekte Seks 'Nxivm' yang Dihukum Penjara 120 tahun?

Siapa Sosok Pemimpin Sekte Seks 'Nxivm' yang Dihukum Penjara 120 tahun?

Global
AS akan Cari 'Cara Baru' Jalin Kerja sama dengan Indonesia di Laut China Selatan

AS akan Cari "Cara Baru" Jalin Kerja sama dengan Indonesia di Laut China Selatan

Global
Jet Tempur Tua Rusak Saat Terbang, Pilot Taiwan Tewas Jatuh di Laut

Jet Tempur Tua Rusak Saat Terbang, Pilot Taiwan Tewas Jatuh di Laut

Global
Trump atau Biden, Siapa yang Lebih Disukai Warga Arab di Timur Tengah?

Trump atau Biden, Siapa yang Lebih Disukai Warga Arab di Timur Tengah?

Global
komentar
Close Ads X