Menganggur di Tengah Krisis Wabah, Pekerja Migran India Pulang Kampung Jalan Kaki

Kompas.com - 18/05/2020, 15:30 WIB
Pada Senin (11/5/2020), di foto ini, tampak pekerja migran dari negara bagian di India berjalan pulang ke kampung halaman mereka melalui rel kereta api menuju stasiun kereta api di Ahmedabad, India. AP/Ajit SolankiPada Senin (11/5/2020), di foto ini, tampak pekerja migran dari negara bagian di India berjalan pulang ke kampung halaman mereka melalui rel kereta api menuju stasiun kereta api di Ahmedabad, India.

NEW DELHI, KOMPAS.com -  Puluhan ribu pekerja migran miskin di India, berjalan di jalan raya dan rel kereta api atau naik truk, bus, dan kereta api yang penuh sesak di bawah terik panas matahari di tengah pandemi virus corona.

Beberapa di antara mereka ditemani oleh istri yang sedang hamil dan anak-anak yang masih kecil, kesemuanya rentan terhadap ancaman virus corona.

Dilansir The Associated Press, mereka mengatakan bahwa mereka terpaksa meninggalkan kota-kota di mana mereka telah bekerja keras selama bertahun-tahun membangun rumah dan jalan setelah mereka ditelantarkan oleh pihak yang mempekerjakan mereka, akibat lockdown nasional untuk menghentikan penyebaran virus.

Baca juga: 16 Pekerja Migran di India Tewas Terlindas Kereta Api Saat Pulang Kampung

Pemerintah dan badan amal telah mencoba untuk mendirikan tempat berlindung bagi mereka, tetapi jumlah mereka sangat banyak. Mau tak mau mereka pulang ke kampung halaman dengan menerjang bahaya.

Pekan lalu, sebuah kereta menabrak sekelompok pekerja migran yang lelah dan tertidur di atas rel saat melakukan perjalanan ke kampung halaman mereka di negara bagian Maharashtra Barat dan menewaskan 16 pekerja.

Pada Sabtu, setidaknya 23 buruh tewas di India Utara ketika sebuah truk yang mereka tumpangi menabrak truk stasioner di jalan raya.

Baca juga: Ini Sanksi bagi Perusahaan Pengiriman Pekerja Migran yang Tak Taat Aturan

"Saya tidak tahu bagaimana masa depan saya," kata Hari Ram (28), seorang tukang batu yang berangkat ke desanya di India pertengahan pekan ini dengan berjalan kaki, berharap dapat mencari tumpangan dalam perjalanan.

“Satu hal yang pasti, jika saya mati, saya akan mati di rumah saya. Saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di New Delhi lagi,” katanya.

Dasrath (32) pekerja migran lainnya mengatakan, “Politisi India hanya mendatangi kami untuk memberikan suara selama pemilihan. Kami menghadapi situasi yang sangat sulit sekarang, tidak ada yang membantu kami. "

Sementara itu, diketahui bahwa setengah dari populasi India berpenghasilan kurang dari 3 dolar sehari.

Baca juga: Gadis Ini Dipanggil Corona, Dipukuli di Gurugram, India

 

Lebih dari 90 persen tenaga kerja dipekerjakan di sektor informal, tanpa akses untuk memiliki tabungan yang signifikan atau mendapat perlindungan sosial seperti cuti sakit dan asuransi, menurut catatan Bank Dunia.

Para pekerja migran mengatakan mereka dapat kembali ke pertanian dan juga mengambil pekerjaan seperti membangun jalan, memanen air di daerah yang dilanda kekeringan dan membangun tempat penampungan hewan di bawah program pemerintah yang menjamin 100 hari kerja setahun di pedesaan India untuk 200 rupee India atau 2,65 dolar AS (sekitar Rp 39.000) per orang setiap harinya.

Keluarnya para pekerja migran dari kota menyebabkan kekhawatiran bagi perusahaan-perusahaan barang konsumen terkemuka di India, yang takut akan kekurangan tenaga kerja saat mereka melanjutkan produksinya.

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Setelah Tembak Korbannya 19 Kali, Remaja Ini Tertawa Sebelum Melarikan Diri

Setelah Tembak Korbannya 19 Kali, Remaja Ini Tertawa Sebelum Melarikan Diri

Global
Pembantaian Muslim di Srebrenica, Kuburan Massal Baru Masih Ditemukan

Pembantaian Muslim di Srebrenica, Kuburan Massal Baru Masih Ditemukan

Global
[POPULER GLOBAL] Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona | Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

[POPULER GLOBAL] Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona | Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Global
Brasilia Kacau, Jadi Hot Spot Baru Covid-19 tapi Pemerintah Kurang Peduli

Brasilia Kacau, Jadi Hot Spot Baru Covid-19 tapi Pemerintah Kurang Peduli

Global
5 Orang Tewas akibat Insiden Penyanderaan di Afrika Selatan

5 Orang Tewas akibat Insiden Penyanderaan di Afrika Selatan

Global
Ratusan Gajah Mati Misterius di Botswana, Diduga karena Patogen Baru

Ratusan Gajah Mati Misterius di Botswana, Diduga karena Patogen Baru

Global
Penumpang Kereta di Irlandia ini Memakai Masker dari Celana Dalam

Penumpang Kereta di Irlandia ini Memakai Masker dari Celana Dalam

Global
Merasa Dirinya Robin Hood, Ketua Geng Ini Minta Pengurangan Masa Tahanan

Merasa Dirinya Robin Hood, Ketua Geng Ini Minta Pengurangan Masa Tahanan

Global
Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona, Ini yang Dirasakannya

Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona, Ini yang Dirasakannya

Global
Ibu Vikas Dubey: Tembak di Mana pun Dia Berada

Ibu Vikas Dubey: Tembak di Mana pun Dia Berada

Global
Klaster Virus Corona di Sekolah Al-Taqwa Jadi Terbesar di Melbourne, Penularannya Masih Jadi Misteri

Klaster Virus Corona di Sekolah Al-Taqwa Jadi Terbesar di Melbourne, Penularannya Masih Jadi Misteri

Global
Trump Sebut Joe Biden Plagiat Rencana Program Ekonominya

Trump Sebut Joe Biden Plagiat Rencana Program Ekonominya

Global
Percaya Bisa Terbang ala Tokoh Kartun, Bocah Ini Hampir Tewas Usai Lompat dari Lantai 2

Percaya Bisa Terbang ala Tokoh Kartun, Bocah Ini Hampir Tewas Usai Lompat dari Lantai 2

Global
Karena Minum Miras, Tahanan Ini Dieksekusi Mati di Iran

Karena Minum Miras, Tahanan Ini Dieksekusi Mati di Iran

Global
 FBI Tawarkan Rp 143 Juta atas Informasi Keberadaan Gadis Hilang Ini

FBI Tawarkan Rp 143 Juta atas Informasi Keberadaan Gadis Hilang Ini

Global
komentar
Close Ads X