Kompas.com - 17/11/2020, 13:03 WIB
ilustrasi serabi Bandung ShutterStockilustrasi serabi Bandung

KOMPAS.com - Serabi menjadi salah satu kudapan yang bisa ditemui di beberapa daerah di Indonesia seperti Solo dan Bandung. Serabi solo dan serabi bandung memiliki ciri khasnya masing-masing.

Meski sama-sama serabi, tetapi terdapat sejumlah perbedaan antara serabi solo dengan serabi bandung baik dari segi bahan, alat memasak, hingga kuahnya.

Baca juga: Jajan di Yogyakarta, Coba Serabi Kocor yang Masih Dimasak Pakai Anglo

Bahan dasar

Travelling Chef Wira Hardiansyah mengatakan bahwa bahan dasar serabi bandung biasanya tepung terigu, telur, dan air kelapa atau santan.

" Berbeda dengan serabi solo itu bahannya tepung beras, gula, santan kelapa, dan garam. Tepung berasnya pun biasanya diolah sendiri, bukan dari tepung beras yang instan," kata Wira saat dihubungi Kompas.com, Senin (16/11/2020).

Alat masak dan kuah

Kemudian untuk alat masaknya, serabi solo dimasak dengan menggunakan baja. Sementara serabi bandung dimasak menggunakan tanah liat, sehingga hasilnya pun berbeda.

Saat dimakan, serabi bandung disajikan dengan kuah kinca atau campuran gula merah, santan, dan daun pandan.

Berbeda dengan serabi solo yang adonannya sudah dicampur santan, sehingga tidak perlu lagi memakai kuah.

Baca juga: Resep Serabi Solo, Tekstur Lembut Sampai Bisa Digulung

Sejarah serabi

ilustrasi serabi SoloShutterStock ilustrasi serabi Solo

Meski memiliki perbedaan yang lumayan mencolok, tetapi serabi secara umum adalah makanan yang berasal dari India Selatan. Menurut Wira, serabi juga kerap disajikan oleh Muslim di Malabar India Selatan.

"Orang India telah memperkenalkan serabi di Indonesia jauh sebelum orang Belanda tiba di Nusantara," ucapnya.

Berdasarkan namanya, serabi diambil dari kata suro yang kemudian menjadi surobi. Suro di sini ada maknanya yang artinya "lebih besar" (lebih besar dari apem).

Kenapa apem? Karena apem dan serabi pada dasarnya memiliki kesamaan dari segi bahan dan cara memasak.

Baca juga: Bedanya Kue Apem Kukus, Panggang, dan Selong

"Tapi yang menguatkan ialah, karena kue apem selalu disajikan pada saat bulan suro atau malam suro makanya disebut kue suro, surobi lalu sekarang dikenal dengan nama serabi," terang Wira.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X