Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/01/2022, 11:16 WIB
Mahar Prastiwi

Penulis

KOMPAS.com - Indonesia berada diantara 3 pertemuan lempeng besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Hal ini yang menyebabkan Indonesia sering terjadi bencana gempa bumi.

Bahkan pertemuan lempeng di wilayah Indonesia ini tergolong yang paling aktif di dunia.

Seperti peristiwa gempa bumi yang terjadi di selatan Jawa belakangan ini. Terjadinya gempa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada pada kawasan lempeng yang terus bergerak. 

Baca juga: Mendikbud: Tahun 2022, Kuota Peserta MBKM Naik Jadi 150.000 Mahasiswa

Pusat gempa Banten berada di wilayah prisma akresi

Dosen Departemen Geologi Sains Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Iyan Haryanto mengatakan, gempa bumi yang mengguncang wilayah Banten baru-baru ini, jika dilihat dari pusat gempa, posisinya berada di kawasan yang disebut prisma akresi.

Prisma akresi merupakan wilayah yang rawan terjadi gempa bumi karena berada di atas pusat-pusat gempa.

Wilayah ini merupakan kumpulan dari sesar-sesar naik, atau sesar yang mengangkat akibat proses penumbukan atau penunjaman yang terjadi. Jika salah satu patahan menunjam ke bawah, maka di sisi satunya akan terangkat akibat proses penunjaman tersebut.

Baca juga: Rans Entertainment Buka Lowongan Kerja bagi Lulusan S1, Yuk Daftar

Salah satu wilayah Indonesia yang berada di kawasan sesar akresi adalah Pulau Nias di Sumatera Utara.

"Jika di Sumatera, prisma akresi ini muncul menjadi pulau. Kalau di selatan Jawa belum membentuk pulau," kata Iyan seperti dikutip dari laman Unpad, Rabu (19/1/2022).

Indonesia berada di batas lempeng yang terus bergerak

Iyan menjelaskan, secara ilmu geologi, Indonesia berada pada batas-batas lempeng yang satu sama lain terus bergerak.

Baca juga: Hanya Ada Satu di Indonesia, Yuk Kenali 2 Jurusan Kuliah di Unair Ini

Di sebelah barat, batas lempeng tersebut mulai dari sebelah barat Sumatera, lalu menerus ke selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Beberapa daerah di wilayah tersebut dekat dengan zona subduksi, atau batas lempeng tektonik yang sifatnya menunjam antara lempeng oseanik dengan lempeng kontinen.
Batas pertemuan dari dua lempeng ini merupakan kawasan yang aktif secara tektonik.

"Jadi jelas kalau Sumatera dan Jawa rawan terhadap peristiwa gempa tektonik, karena berada pada batas lempeng yang aktif," terang Iyan.

Banyak memiliki struktur sesar aktif

Selain berada pada zona subduksi, lanjut Iyan, Pulau Sumatera dan Jawa banyak memiliki struktur sesar aktif. Pergerakan sesar aktif juga memicu terjadinya gempa tektonik atau gempa bumi yang terjadi karena aktivitas tektonik.

Baca juga: Siswa, Yuk Intip 7 Tips Berwirausaha di Tengah Pandemi Covid-19

Sehingga peristiwa gempa tektonik di Sumatera dan Jawa pada khususnya diakibatkan oleh pergerakan aktivitas lempeng di zona subduksi atau berkaitan dengan aktivitas sesar aktif, atau pula kombinasi di antara keduanya.

Sesar aktif di daratan juga berperan mempercepat rambatan getaran akibat gempa di lautan. Hal ini yang menjadi faktor mengapa suatu gempa bumi bisa terasa hingga wilayah yang cukup jauh dari titik gempanya.

Mitigasi bencana perlu diperkuat

Iyan menekankan, karena Indonesia berada pada kawasan rawan gempa tektonik, pengetahuan masyarakat akan mitigasi kebencanaan harus diperkuat. Minimnya pengetahuan mitigasi bencana akan berdampak fatal saat bencana terjadi.

"Masyarakat yang ada di Pulau Jawa, khususnya, tidak bisa terhindar dari banyaknya peristiwa gempa bumi," ungkap Iyan.

Baca juga: Epidemiolog UGM Sarankan Hal Ini agar Omicron Tak Ganggu PTM Terbatas

Sosialisasi mengenai pengetahuan sesar hingga tindakan perlindungan dasar ketika bencana terjadi harus terus digalakkan kepada masyarakat.

"Termasuk ketika gempa bumi yang diikuti tsunami, misalnya, masyarakat harus memahami tanda-tanda akan terjadinya tsunami itu," tutup Iyan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com