Kompas.com - 18/01/2022, 11:25 WIB
Masyarakat suku Tengger melarung sesajen ke kawah Gunung Bromo pada Upacara Yadnya Kasada, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). Upacara Kasada merupakan upacara adat masyarakat Suku Tengger sebagai bentuk ucapan syukur kepada Sang Hyang Widi sekaligus meminta berkah dan menjauhkan dari malapetaka. ANTARA FOTO/ZABUR KARURUMasyarakat suku Tengger melarung sesajen ke kawah Gunung Bromo pada Upacara Yadnya Kasada, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). Upacara Kasada merupakan upacara adat masyarakat Suku Tengger sebagai bentuk ucapan syukur kepada Sang Hyang Widi sekaligus meminta berkah dan menjauhkan dari malapetaka.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) telah mengantongi identitas HF, pria yang menendang dan membuang sesajen di Kawasan Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Berdasarkan keterangan pengacaranya, pemuda asal Lombok Timur akan mendatangi markas Polda Jatim untuk menyampaikan klarifikasinya.

Baca juga: Viral Sesajen Ditendang, Ini Tanggapan Pakar UGM

Kendati demikian, Dosen Prodi Sosiologi Unair Prof. Bagong Suyanto angkat suara.

Menurut dia, pelaku penendang sesajen di Gunung Semeru tidak perlu dilaporkan ke kepolisian.

Bangsa Indonesia, kata dia, perlu belajar memaafkan dan memahami orang yang tidak mengerti.

"Menurut saya tidak perlu memperpanjang masalah ini sampai ke ranah hukum. Bisa dengan kekeluargaan dan terpenting ketika pelaku sudah meminta maaf, maka selesai permasalahannya. Karena menurut informasi yang saya dapat, pelaku tidak berasal dari Lumajang, sehingga mungkin tidak mengetahui adat istiadat setempat," ucap dia melansir laman Unair, Selasa (18/1/2022).

Meskipun demikian, Prof. Bagong tidak membenarkan tindakan tersebut.

Menurut dia, Indonesia adalah bangsa multikulturalisme, sehingga setiap orang perlu menghargai perbedaan.

"HF (pelaku) kan orang luar daerah yang datang ke komunitas lokal (masyarakat Lumajang, Red). Maka dia harus berempati dan belajar memahami perbedaan," jelas dia.

Dia menegaskan, pelaku HF tidak bisa hanya membenarkan tindakannya sendiri dan menganggap yang lain adalah salah.

Baca juga: Putusan Hakim Ringan karena Sopan, Ini Kata Pakar Hukum Unair

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.