Kompas.com - 22/09/2021, 16:38 WIB
Ilustrasi Mahasiswa DOK. PIXABAYIlustrasi Mahasiswa

KOMPAS.com - Membangun budaya integritas akademik di era pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini menjadi topik yang semakin hangat di kalangan akademisi.

Praktik plagiarisme menjadi isu yang kerap muncul, seiring dengan bertambah mudahnya mahasiswa dalam mengakses konten digital.

Perguruan tinggi kini tak hanya memiliki tanggung jawab untuk mencetak mahasiswa yang sukses mencapai hasil belajar dan memenuhi persyaratan kelulusan, namun juga tanggung jawab untuk membangun integritas akademik.

Tanpa integritas, penguasaan disiplin ilmu mahasiswa di perguruan tinggi untuk kemudian menjalankan profesi dan tugas terkait pekerjaannya pasca kelulusan, bisa dipertanyakan.

Baca juga: Beasiswa S2 University of Cambridge 2022, Tunjangan Rp 351 Juta Per Tahun

Urgensi membangun integritas akademik, selain menjadi bagian dari literasi digital, juga untuk menghindari diri dari self-claim atau mengakui karya orang lain seakan-akan pernah membuatnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Filiana Santoso, Rektor Swiss German University mengatakan bahwa integritas akademik sudah harus diperkenalkan kepada anak-anak tingkat SMA dan SMP karena mereka sudah mulai menulis karya ilmiah.

“Contoh-contoh pelanggaran akademik seperti menyontek, plagiarisme, falsifikasi dan fabrikasi. Untuk mencegah mahasiswa menyontek, di SGU ada peraturan bahwa mahasiswa yang menyontek dan yang memberi contekan akan dinyatakan tidak lulus pada semester tersebut dan harus mengulang seluruh mata kuliah di semester berikutnya," ujarnya saat menjadi narasumber pada webinar bertajuk Mengapa Kita Harus Peduli Membangun Integritas Akademik Pada Mahasiswa Sedini Mungkin? yang diselenggarakan oleh Turnitin, Rabu (22/9/2021).

"Meski misalnya dia hanya menyontek di mata kuliah Matematika, bukan di mata kuliah lain, tetap tidak lulus. Sebab fokus kami adalah membangun karakter, sebab integritas mencakup semuanya,” imbuh dia.

Baca juga: Mahasiswa Dapat Rp 9 Juta Per Semester, Ini Cara Daftar KJMU Tahap II 2021

Sedangkan untuk mencegah plagiarisme, kata Filiana, mahasiswa dan dosen wajib melampirkan hasil Turnitin untuk setiap karya ilmiah yang dibuat.

“Pada 2017, level plagiarisme di SGU mencapai 29,16 persen. Lalu di tahun berikutnya turun menjadi 23.48 persen, dan tahun 2021 ini sudah mencapai 13.46 persen. Target 2022 levelnya sudah mencapai 10 persen.”

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.