Kompas.com - 10/05/2021, 20:19 WIB
Kucing emas berada didalam kandang habituasi sebelum dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan), Lampung, Selasa (8/12/2020). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) melepasliarkan 2 individu kucing emas di kawasan TNBBS, Lampung. Kedua kucing emas dewasa dengan nama Gato dan Goldie itu merupakan satwa hasil penyitaan tim Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Mabes Polri dari para pelaku perdagangan ilegal satwa liar dilindungi 2018 silam. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKucing emas berada didalam kandang habituasi sebelum dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan), Lampung, Selasa (8/12/2020). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) melepasliarkan 2 individu kucing emas di kawasan TNBBS, Lampung. Kedua kucing emas dewasa dengan nama Gato dan Goldie itu merupakan satwa hasil penyitaan tim Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Mabes Polri dari para pelaku perdagangan ilegal satwa liar dilindungi 2018 silam.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan, Prof. Ronny Rachman Noor menyebut Indonesia berada di pusaran perdagangan satwa liar dunia.

Menurut dia, hasil penelitian menunjukkan Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir produk satwa liar terbesar dunia bersama dengan Jamaica dan Honduras.

Baca juga: Kiat Sukses 4 Guru Besar IPB

"Sedangkan Amerika, Perancis dan Italia tercatat sebagai negara importir produk satwa liar terbesar dunia," kata dia melansir laman IPB, Senin (10/5/2021).

Tidak hanya itu, dia menyebut perdagangan satwa liar juga diduga merupakan penyebab utama kelangkaan dan kepunahan spesies.

Diduga juga menjadi salah satu jalur penularan dan penyebaran penyakit ke berbagai belahan dunia.

Dari beberapa data, dia mengungkap hasil studi yang diterbitkan di jurnal Science, memperlihatkan pusat perdagangan satwa liar, seperti burung, mamalia dan amfibi terjadi di wilayah pegunungan Andes dan hutan hujan Amazon, sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara dan Australia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil penelitian itu juga mengidentifikasikan bahwa di masa mendatang, ada sekitar 3.000 spesies lain yang tampaknya akan diperdagangkan terutama satwa liar yang memiliki bulu yang cerah atau tanduk yang eksotis.

Hasil penelitian Science Advances, lanjut dia, menunjukkan perdagangan satwa liar sangat besar.

Sebagai gambaran dari tahun 2006 hingga 2015 telah diperdagangkan sebanyak 1,3 juta hewan dan tumbuhan hidup, 1,5 juta kulit, dan 2.000 ton daging satwa liar diekspor secara legal dari Afrika ke Asia.

"Jadi dapat kita bayangkan jika data perdagangan satwa liar digabungkan maka skala perdagangan satwa liar dunia ini sangatlah besar," ungkap dia.

Dia menegaskan, semakin besarnya jurang kemiskinan antara negara kaya dan miskin menjadi pemicu terjadinya perdagangan satwa liar ilegal antar negara yang semakin marak.

Sebagian besar aliran perdagangan satwa liar ini berasal dari negara miskin yang memasok satwa liar ke negara kaya.

Perdagangan satwa liar baik secara legal maupun ilegal merupakan lingkaran setan yang tidak pernah berujung karena ada satu pihak yang membutuhkan dan ada pihak lain dengan berbagai alasan, utamanya alasan ekonomi, melakukan perdagangan satwa liar.

Baca juga: Bagi yang Suka Berutang, Ini 9 Tips Menguranginya ala Pakar IPB

Dugaan virus Covid-19 berasal dari pasar basah perdagangan satwa liar untuk konsumsi di Wuhan, Tiongkok menunjukkan perdagangan satwa liar tidak saja berdampak pada kelangkaan dan kepunahan.

Tapi, bisa bersifat fatal dengan merebaknya penyakit baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Indonesia jadi sorotan dunia

Saat ini Indonesia memang menjadi sorotan dunia dalam hal perdagangan satwa liar.

Berbagai upaya pencegahan dan penindakan memang telah dilakukan namun tampaknya perdagangan satwa liar ini masih marak baik untuk kebutuhan konsumsi maupun dipelihara sebagai hewan eksotik.

"Di pasar-pasar hewan, kita masih dapat melihat bagaimana satwa liar yang dilindungi masih diperdagangkan dengan leluasa," jelas dia.

Dalam memecahkan rantai perdagangan satwa liar, perjanjian pelarangan perdagangan antar negara saja tampaknya belum cukup.

Mengingat salah satu faktor pemicunya adalah masalah ekonomi. Oleh sebab itu dalam melakukan perjanjian ini, faktor ekonomi harus dimasukkan dalam perjanjian.

Baca juga: Universitas Brawijaya Buka Jalur Mandiri, Ini Syarat dan Cara Daftar

"Melarang dan menghukum saja tidak akan memecahkan masalah karena akar permasalahan yang memicu pelaku melakukan perdagangan satwa liar ini adalah masalah ekonomi," pungkas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X