Kompas.com - 27/02/2021, 06:07 WIB
Calon penumpang kereta api jarak jauh mengikuti pemeriksaan sampel napas GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (4/2/2021). Mulai 5 Februari 2021, PT KAI menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Yogyakarta sebagai syarat untuk naik kereta api jarak jauh. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGCalon penumpang kereta api jarak jauh mengikuti pemeriksaan sampel napas GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (4/2/2021). Mulai 5 Februari 2021, PT KAI menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Yogyakarta sebagai syarat untuk naik kereta api jarak jauh.
|

KOMPAS.com - Alat screening temuan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, GeNose menjadi angin segar dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Bahkan karena dinilai sangat efektif dan praktis, GeNose juga sudah diberlakukan bagi calon penumpang di stasiun.

Meski diapreasi banyak pihak, para peneliti UGM terus mengembangkan kecerdasan alat deteksi Covid-19 melalui embusan napas, GeNose C19 ini. Hal ini bertujuan agar semakin akurat dalam mendeteksi adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama napas.

Ketua Tim Peneliti UGM sekaligus penemu GeNose C19 Prof. Kuwat Triyana mengungkapkan, saat ini GeNose C19 masih terus dikembangkan. Baik dari sisi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) maupun prosedur operasi standar penggunaan alatnya.

Menurut Prof. Kuwat, tim peneliti terus berusaha mengembangkan akurasi GeNose C19 dengan menambah kemampuan sensitivitas dan spesifisitas.

Baca juga: Screening Lebih Cepat, Rektor UGM Serahkan 20 GeNose ke Fakultas

"Para peneliti sedang berfokus pada aspek kontaminasi yang dapat menyebabkan sensitivitas GeNose C19 terganggu. Misalnya karena seseorang merokok sebelum tes," terang Prof. Kuwat seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (26/2/2021).

Tingkatkan kecerdasan buatan GeNose C19

Prof. Kuwat menjelaskan, pihaknya mencoba memastikan alat GeNose setiap saat. Tim peneliti juga meningkatkan kecerdasan buatan GeNose C19 dengan memperbarui sampel setiap hari.

Sementara itu, penemu GeNose C19 lainnya dr. Dian K Nurputra menambahkan, secara teknologi dan teknik, mesin GeNose C19 telah mapan.

Baca juga: Dosen UGM Kembangkan Spons Laut dan Minyak Atsiri sebagai Antiinfeksi

Namun, saat ini peneliti masih menyempurnakan kecerdasan buatan yang menjadi 'otak' dari alat screening Covid-19 tersebut.

"Penggunaan GeNose C19 di stasiun dan bandara akan menghimpun data-data baru bagi pengembangan kecerdasan buatan yang semakin akurat," tandas dr. Dian.

dr. Dian menegaskan, GeNose berbeda dari teknologi serupa dari negara lain. GeNose C19, lanjut Dian, mendayagunakan sistem semburan pada kantong napas yang tidak tersambung langsung dengan mesin.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X